Tertarik Belajar Membatik? Coba Pengalaman Lain dengan Kompor Batik Listrik

Proses membatik acap terlihat menggunakan kompor tanah liat dengan bahan bakar minyak tanah untuk mencairkan lilin (malam). Dengan adanya program menggantikan minyak tanah ke gas beberapa tahun lalu, akses membeli minyak tanah semakin sulit. Kondisi ini mendorong terciptanya kompor listrik untuk membatik.

Nova Suparmanto, adalah sosok yang cukup diakui dalam inovasi produk kompor batik bertenaga listrik ini. Dengan merk dagang “ASTOETIK” (Auto-Electric Stove for Batik), Nova bersama teman-temannya mendirikan bendera usaha PT Putra Multi Cipta Teknikindo (PMCT) pada 2014.

Astoetik merupakan inovasi kompor batik yang menggunakan tenaga listrik, sehingga lebih hemat energi di dibandingkan kompor batik konvensional. Kompor ASTOETIK memiliki variasi produk mulai dari ukuran kecil 80watt hingga 300an watt. ASTOETIK menjadi kompor batik pertama yang menggunakan bahan alumunium sehingga lebih ringan dibanding kompor batik sejenis yang berbahan tanah liat atau besi.

Baca juga:
Batik Indonesia Percantik Museum Tekstil George Washington University
Motif Batik Tradisional Unik yang Tetap Dipertahankan Hingga Kini

“Kalo sekarang sudah banyak yang memproduksi kompor batik sejenis, tapi kita sudah mempatenkan produk kita sebagai HaKI (Hak Kekayaan Intelektual), dan kami juga memproduksinya dengan kualitas kontrol berstandar SNI,” kata Nova.

Konsistensi Nova dan para rekannya untuk menjaga kualitas sesuai standar SNI sudah diakui dengan banyak penghargaan. Di antaranya SNI AWARD 2017, juara Mandiri Young Technopreneur 2013, Lomba Pengembangan IPTEK Kab Sleman 2012, dan Lomba Java Business Competition Bidang Paper IM Telkom Bandung 2012.

“Sudah sekitar 10ribu kompor batik kami jual sejak awal memproduksi. Ada yang memesan dari wilayah Yogya, juga ada yang minta dikirim ke berbagai daerah,” Nova menambahkan

Selain terus berinovasi mengembangkan kompor batik, Nova bersama rekan-rekannya juga mendirikan Sanggar dan Toko Batik Astoetik. Sanggar menjadi tempat belajar dan pelatihan membuat batik tulis. Sudah ribuan orang, baik pelajar, guru maupun turis asing yang pernah belajar di sanggarnya. Sanggar ini menjadi bagian dari strategi pemasaran untuk mempopulerkan kompor ASTOETIK. Sekaligus mempertahankan tradisi batik tulis yang merupakan kekayaaan budaya bangsa.

Pemuda kelahiran Bantul, 24 November 1989 ini pun mengembangkan usahanya sambil tetap aktif di berbagai organisasi kepemudan dan kebudayaan. Dari tempat usaha di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, kompor batik ini dipasarkan hingga ke manca negara. Desember mendatang, ASTOETIK beserta pelatihan membatiknya “diekspor” ke Australia.

 

Penulis: Ryani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *