Mau Kunjungi Museum Batik Pekalongan? Baca Dulu Aturan Ini

Kain sangat rentan terhadap suhu, kelembapan, dan cahaya. Apabila suhu terlalu panas dan kelembapan kurang, kain akan rapuh dan mudah ‘pecah’ atau robek. Apabila suhu terlalu rendah dan kelembapan tinggi, kain akan jamuran. Begitu pula dengan cahaya, kualitas dan warna kain akan menurun apabila terpapar lampu yang terlalu terang dan panas. Museum saat ini menggunakan lampu LED sebagai alat penerang di ruang pamer.

Kain yang dipamerkan di ruang pamer mempunyai tingkat resiko yang lebih tinggi terhadap kerusakan. Museum mengeluarkan peraturan baik untuk pegawai maupun pengunjung museum. Pegawai wajib melakukan monitoring dan kebersihan ruang pamer dan koleksi. Sementara pengunjung dilarang untuk memegang koleksi, melakukan aktifitas yang menyebabkan kotor seperti makan minum di ruang koleksi, serta apabila memotret tidak boleh menggunakan flash.

Baca juga:
Mengikuti Sejarah Rokok Khas Indonesia di Museum Kretek
Mengintip Indahnya Batik Kuno di Museum Batik Pekalongan

Pengunjung tidak boleh menyentuh koleksi karena ditakutkan ada kotoran debu, zat tertentu, dan yang pasti zat asam dari keringat yang sangat berpengaruh pada kualitas kain. Bagian koleksi dan konservasi pun setiap hari melakukan monitoring meliputi cek suhu dan kelembapan ruangan.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa koleksi yang dipamerkan akan mengalami penurunan kualitas. Museum Batik Pekalongan melakukan pergantian koleksi setahun sekali, selain untuk peremajaan tampilan, juga untuk menghindari penurunan kualitas koleksi.

Setiap koleksi yang diturunkan dilakukan pengecekan dan upaya kuratif apabila ada kerusakan, baru kemudian disimpan. Langkah pertama adalah pengecekan dan pengidentifikasian. Biasanya ada beberapa masalah umum pada kain, yaitu kotor berdebu, tumbuh jamur ataupun banyak serangga, hingga robek.

Untuk masalah kotor berdebu biasanya dilakukan penyedotan debu memakai vacuum cleaner. Apabila kotornya parah dilakukan pencucian di bak besar dan menggunakan kuas (bukan sikat) serta lerak (bukan detergen). Lerak (Sapindus rarak De Candole) adalah sejenis buah yang mengandung saponin, sejenis racun untuk membersihkan dan membunuh serangga kecil. Selain membersihkan lerak juga dapat menjaga warna dan mengharumkan kain.

Saat ini banyak yang sudah mengolah lerak menjadi cairan pembersih, jadi kita tidak perlu lagi memproses dari buah nya. Apabila ada kotor bernoda dilkaukan penangan hanya pada spot noda tersebut memakai aseton, atau alcohol 96%. Penanganan pada kutu serangga yang tinggal dikain adalah dengan melakukan fumigasi ataupun ratus. Fumigasi dilakukan memakai teknik penguapan menggunakan thymol, sedangkan ratus menggunakan dupa.

Apabila ada kain yang robek akan dilakukan dua pilihan. Apabila robek kecil, kain akan dijahit (ditisik) menyatukan dua bagian yang robek. Apabila robek berlubang maka akan dilakukan upaya ngeblok yaitu menambal dengan menjahitkan lapisan kain baru pada lubang tersebut. Kain lapisan diusahakan mempunyai warna yang sama dengan warna dasar kain batik.

Setelah melakukan upaya-upaya tersebut, bagian koleksi dan konservasi menyimpan koleksi dalam rak lemari. Penyimpanan juga tidak boleh sembarangan. Kain tidak boleh dilipat, melainkan digulung pada pipa paralon yang sudah dilapisi ethafoam, dan dibagian dalam kain dilapisi kertas bebas asam. Lalu gulungan tersebut ditutup kain dan di masukkan dalam rak penyimpanan.

Hingga saat ini telah banyak upaya Museum batik dalam menjaga kondisi serta memperbaiki kain batik. Dan semua ini dilakukan agar kain batik tetap terjaga demi kelestarian budaya batik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *