Film, Cara Dua Pendidik Amerika Serikat Menceritakan Belajar Membatik Khas Tanah Jawa

Walau arus modernisasi dan digitalisasi terus berkembang, posisi batik sebagai kekayaan budaya yang memiliki makna yang mendalam tetap kuat.

Dua orang pembuat film sekaligus pendidik asal Amerika Serikat, Andrew Galli dan David Gundlach menggali lebih dalam spiritualisme, tahapan proses pembuatan batik hingga filosofi para pebatik dalam bentuk film. Dikutip dari The Jakarta Post, film tersebut disematkan judul “Batik of Java: A Visual Journey”.

Lahirnya kecintaan pada Batik dimulai Galli sejak tahun 2005. Kala itu, ia melihat pameran tekstil yang kemudian baru diketahuinya Batik, karya Rosi Robinson, di Barbican Centre, London. Rasa ingin tahunya berkembang setelah berdiskusi dengan akademisi batik Rudolf G. Smend.

Dari situlah muncul keinginan mendalami proses pembuatan batik. “Untuk bisa menghargai batik, seseorang perlu pergi ke workshops , ikut tur atau kelompok belajar khusus terkait batik Sayangnya, tak banyak orang memiliki kesempatan ikut aktivitas demikian,” kata Galli.

Baca juga:
Tony Herawan, Kolektor Batik Karena “Terpaksa”
Merekalah Para Penggaung Batik ke Panggung Fesyen Internasional

Akhirnya, ia memutuskan mengkomunikasikan proses dan filosofi Batik ke lebih banyak orang dan komunitas melalui film. Ia mengajak Daniel Gundlach, rekannya, pergi langsung mengunjungi tempat-tempat batik dibuat.

“Saat syuting film ini, tujuan kami adalah memperlihatkan seakan-akan penonton merupakan bagian dari kelompok belajar membatik.”

Tak hanya proses membatik, Gallo pun mengajak penonton mengeksplorasi sisi humanis para pebatik. Kecintaannya terhadap proses membatik, hingga harapan-harapannya.

Dari proses membuat film ini lah, keduanya sadar banyak orang Amerika yang tak mengenal batik meski berada di depan bahan batik.

Mereka sering memberikan label yang salah, mengubah apa yang seharusnya batik menjadi sesuatu yang lebih familiar. Contohnya, di satu kesempatan Galli melihat rak yang dipenuhi kemeja-kemeja batik yang mulai memudar tetapi diberi label “Kemeja Hawaii” di Retro Row, Long Beach.

Galli pun melihat sebenarnya batik semakin banyak digemari di Amerika. Terutama untuk bahan selimut. Tetapi selimut batik di sana sering kali kualitasnya kurang baik untuk proses membatiknya.

Film ini sendiri mendapat sambutan yang cukup baik. Menurut Galli, banyak orang Amerika yang terpesona ketika tahu proses di balik batik. Sebuah proses di mana kain diperlakukan dengan kehati-hatian dan keahlian, dibentuk mulai proses memberi lilin, diwarnai beberapa kali hingga muncul warna mendalam yang diinginkan. Juga makna budaya yang terkandung di dalamnya, baik diperlihatkan secara halus atau terpampang jelas.

“Saat kau menggali lebih mendalam, kau akan melihat bahwa batik bagi para pembuatnya memiliki makna personal yang sangat mendalam. Ada “jejak” para pembuatnya dalam helaian karya batik,” kata Galli.

Film yang bisa tersedia di Gallipublishing juga menggarap tentang komunitas serta peta jalan yang secara sadar atau tak sengaja dibuat untuk memastikan proses membatik berjalan mulus. Mulai dari penanaman tanaman-tanaman yang digunakan untuk pewarnaan, hingga keahlian-keahlian yang harus dipelajari dan diturunkan para pembuatnya ke generasi selanjutnya.

“Bagi saya, kesempatan menciptakan film yang bisa memperlihatkan orang-orang asing lainnya peta jalan yang lebih baik untuk mengenal kerajinan kaya budaya dari Indonesia ini merupakan sebuah kesempatan yang special,” Galli menambahkan.

 

Penulis: Ryani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *