Festival Kora-Kora, Simbol Masyarakat Banda Melawan Kolonialisme

Jika Anda punya niatan untuk berkunjung ke Provinsi Maluku Utara, tepatnya pada 9 sampai 10 Desember 2017 jangan lupa menyaksikan sebuah festival yang menarik. Festival tersebut bernama Kora-Kora yang sudah masuk dalam kalender event di Indonesia.

Dari nama festival tersebut, pasti banyak yang berpikir Festival Kora-Kora merupakan sebuah perayaan yang berhubungan dengan perahu. Tak semuanya salah, namun yang pasti Festival Kora-Kora merupakan sebuah gelaran yang menampilkan berbagai ragam kebudayaan dari seni tari, musik hingga sajian kuliner.

Karena berhubungan dengan perahu, festival ini juga menampilkan dayung perahu secara berkelompok menggunakan perahu kecil.

Baca juga:
Kisah Sabotase Rempah Maluku yang Dikuasai VOC oleh Poivre
Kisah Tukar Guling Pulau Run di Maluku dengan Manhattan di New York

Berbeda dengan budaya Timba Laor yang juga berasal dari Maluku, Festival Kora-Kora lebih banyak diisi dengan perlombaan. Selain lomba dayung perahu secara berkelompok, juga ada lomba memancing, lomba foto bawah laut hingga lomva pawai perahu hias yang sangat menarik bagi wisatawan lokal maupun asing.

Pada festival ini yang paling ditunggu para wisatawan dan menjadi puncak acara yakni lomba dayung perahu kecil.

Di Maluku Utara, perahu kecil disebut dengan kora-kora. Selain itu, lomba mendayung kora-kora ini juga mempuyai nilai historis yang sangat tinggi bagi masyarakat pesisir Maluku.

Awal abad ke-17 para pejuang Banda dengan semangat juang yang tinggi melawan Kolonial Belanda yang mencoba memonopoli jalur perdagangan di Banda. Untuk melawannya para pejuang menggunakan kora-kora yang dipersenjatai sebuah meriam kecil.

Fungsi utama kora-kora sebagai senjata perang untuk bisa menghancurkan kapal-kapal Belanda yang menguasau perairan Maluku.

Kora-kora sendiri berbentuk sempit dan memanjang yang cukup membawa para pejuang. Kelebihan perahu mereka yakni mampu berlayar cepat untuk menghadang kapal-kapal Belanda.

Namun, sayangnya kora-kora memiliki kekurangan karena mudah terbalik. Kendati demikian, kora-kora sudah menjalankan tugasnya sebagai peralatan perang dengan baik.

Kini saat Indonesia sudah merdeka, kora-kora tetap melekat di hati masyarakat Banda. Terbukti setiap ada perlombaan kora-kora digelar, ribuan pengunjung datang untuk menyaksikan kedigdayaan perahu itu.

Setiap kampung adat di Kepulauan Banda pun selalu mengirimkan tim lengkap dengan para pasukan pendayungnya. Bahkan ada sebuah ritual khusus saat pembuatan kora-kora sampai turun di pertandingan.

Festival Kora-Kora kini sudah menjadi warisan budaya bahari Indonesia yang setiap tahun selalu digelar.

 

Penulis : Atung Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *