Mau Lihat Cara Seniman Mengekspresikan Keurbanan Jakarta? Cek di Jakarta Biennale 2017

The Big Durian, itulah sebutan para ekspatriat dan orang yang belum pernah tinggal di Jakarta menyebut ibukota Republik Indonesia ini. Bak Durian yang tajam, Jakarta bisa terlihat keras dari luar. ‘Bau’nya pun bisa saja membuat orang tidak suka. Tetapi ketika sudah bicara kelezatan buahnya, maka banyak yang sudah kepincut hati.

Bicara soal ibukota, semakin banyak tantangan sosial yang dihadapi di melting pot ini. Sebanyak 51 seniman Indonesia dan mancanegara memotret segala kompleksitas dan persoalan urban ini dalam Jakarta Biennale 2017 yang diberi tema “JIWA”.

Seperti temanya, perhelatan seni ini dimaknai sebagai daya hidup, energi, semangat, yang merupakan dorongan bagi  individu, kelompok dan masyarakat dalam berinteraksi dengan benda-benda dan alam.

Baca juga:
Motif Simpang Susun Semanggi Jadi Salah Satu Batik Unggulan Jakarta
Menyeruput Teh Sambil Mengintip Sejarah Jakarta di Pantjoran Tea House 

Bagi para penyuka seni, silakan menikmati eksplorasi para seniman ini terkait identitas, sejarah kesenian, sistem kepercayaan hingga ujung batas-batas kebebasan di pameran yang berlangsung 4 November- 10 Desember 2017.

Berpusat di Gudang Sarinah Ekosistem, Pancoran, Jakarta Selata, Biennale kali ini juga ditampilkan di beberapa museum di Jakarta,  seperti Museum Sejarah Jakarta,  Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Wayang.

Semangatnya, karya seni yang memotret keurbanan Jakarta ini bisa dipertemukan dengan lapisan masyarakat yang lebih luas. Walau sebagian besar karya para seniman ini sebenarnya sudah dikenal publik umum, terutama bagi penikmat seni.

Melati Suryodarmo dipercaya sebagai Direktur Artistik di perhelatan akbar dua tahunan yang sudah berlangsung sejak 1974 ini. Bersama dengan tim kurator yang terdiri dari Annissa Gultom, Hendro Wiyanto, Philippe Pirotte dan Vít, Melati melakukan penelitian kuratorial sejak Januari 2017  dengan mengunjungi beberapa kota di Indonesia dan kota-kota di luar negeri.

Mereka juga bertemu para seniman dan pelaku seni lainnya yang terkait persiapan JIWA: Jakarta Biennale 2017. 

“Jiwa di sini itu tidak hanya jiwa urban, ada cara yang secara spesifik seni menjadi bagian dari masyarakat banyak. Ke-urbanan Jakarta itu sulit sekali diceritakan,” ujar Melati Suryodarmo, Direktur Artistik Jakarta Biennale, di sela-sela pembukaan Jakarta Biennale 2017.

Beberapa karya seni yang memotret persoalan urban di antaranya tumbangnya pohon yang ditampilkan oleh Robert Zhao Renhui, ada juga pensil yang dikaryakan oleh Hanafi. Serta I Made Djirna dengan karya seni instalasi. Ada juga beberapa obyek yang diikat dengan keseharian masyarakat Indonesia.

Jakarta Biennale kali ini juga memberikan penghormatan bagi Semsar Siahaan, salah satu ikon utama aktivisme seni Indonesia, yang sudah meninggal di tahun 2005 Ia menjadikan karya-karyanya sepenuhnya sebagai bagian dari upaya menyuarakan pembebasan dari ketidakadilan. Sosok dan karya Semsar Siahaan ditampilkan lewat “Menimbang Kembali Sejarah” – bagian khusus yang mengangkat seniman dengan kontribusi khas di dunia seni rupa.

Sebagai bentuk penghormatan, dipamerkan beberapa karyanya – lukisan, gambar, reproduksi poster, dan sejumlah arsip pribadi, termasuk buku harian yang ia tulis pada 24 Oktober 1998–13 September 2002 ketika berada di luar Indonesia. Di samping itu, diterbitkan pula buku berisi tulisan-tulisan Semsar Siahaan, wawancara-wawancara, dan tulisan tentang sejumlah pameran karyanya.

 

Penulis: Ryani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *