Mempertemukan Seni dan Keindahan Alam di Destinasi Wisata Hits Yogyakarta, Pinus Pengger

Daerah Bantul, Yogyakarta, sudah banyak dikenal dengan keindahan wisata alamnya. Kabupaten yang didominasi perbukitan ini memanjakan mata kaum urban yang ingin menyejukkan mata dengan nuansa hijau. Hamparan sawah, bukit, kebun buah, bahkan pantai ada di kabupaten ini.

Bagi yang sedang berada di daerah Yogyakarta dan sekitarnya, mungkin mau menikmati keindahan salah satu tempat wisata yang sedang hitz di jagat media sosial, Hutan Pinus Pengger.

Baca juga:
The Lodge Maribaya, Tempatnya Berfoto Ria dengan Latar Hutan Pinus
Makanan Tradisional Jogja Ini Sangat Nikmat, Sayang Tak Banyak yang Tahu Keberadaannya

Menuju hutan pinus yang terletak di Dusun Sendangsari, Desa Terong, Kecamatan Dlingo ini cukup mudah. Dari Kota Yogya melewati Jalan Wonosari menuju Bukti Bintang. Sesampainya di perempatan Pathuk, ambil arah menuju Dlingo. Jarak sekitar 4,5 km, kita sudah memasuki area.

Untuk bisa menikmati keindahannya, pengunjung cukup membayar Rp 2.500/ orang. Dengan biaya parkir mobil Rp 5.000-Rp 10.000 dan motor Rp 3.000.

Foto: instagram @arivananthan_90

Lalu apa sebenarnya yang membuat hutan pinus ini hits?? Di sekitarnya sendiri sudah ada beberapa hutan pinus yang lebih dulu dikenal seperti Mangunan dan Puncak Becici. Sentuhan seni, falsafah Jawa lah dan permainan lampu yang baru ada di awal tahun 2017 ternyata jadi jawabannya.

Dibangun bersama masyarakat hutan pinus pengger dan siswa-siswa PAUD-TK-SD Sendangsari dibantu para mahasiswa ISI (Institut Seni Indonesia) dan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), total ada enam karya seni yang dibangun dari inspirasi falsafah Jawa.

Keenamnya disebar saling berjauhan. Dari loket masuk, pengunjung akan  menaiki tangga-tangga yang ditata rapi. Sabrang Anindha, yang menyerupai jembatan antar 2 rumah pohon,  dan  Asuma Paduraksa, yang menyerupai gapura dengan penutup,  akan menyambut kedatangan pengunjung.

Foto: Ryani

Dari segi filosofis, Sabrang Anindha mengingatkan manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan, sehingga perlu menjalin kerukunan antar pribadi. Sedang Asuma Paduraksa menanamkan orang harus selalu sadar akan ke mana dan mau melakukan apa dalam tiap langkah hidup.

Turun agak ke kiri Sabrang Anindha, akan tampak tangan raksasa yang sedang hits di Instagram. Tiga instalasi lainnya berada di lurusan nganan dari Asuma. Di antaranya Chetta Abipraya yang menyerupai rumah Indian. karya ini sendiri bermakna manusia harus memiliki ilmu yang bermanfaat dan bisa diaplikasikan.

Datang ke Pengger, apiknya sebenarnya di malam hari.Dari cerita para penjaga berseragam hijau dan penjaja makanan di sekitar Pengger, permainan lighting  di karya seni instalasi akan memunculkan nuansa magis berbeda.

Jelang matahari terbenam biasanya orang akan mulai ramai ke kawasan ini. Dari kawasan Tangan Raksasa dan kawasan Chetta, pengunjung bisa sekaligus melihat kota Yogya dari nuansa jingga suasanan mentari terbenam berganti gemerlap lampu.

Tapi mau menikmati keindahan alam Pengger di pagi, siang atau malam sebenarnya tak masalah. Bagi yang tak puas hanya beberapa jam di Pengger, lokasi ini juga bisa dijadikan arena camping.

 

Penulis: Riyani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *