Melepas Tawa dan Haru Bersama Manten dalam Upacara Panggih

Pernikahan, idealnya, merupakan perayaan besar keberanian mengikat cinta. Karena alasan itu, budaya berbagai dunia punya tradisi unik pernikahan.

Dalam tradisi Barat atau Nasrani, manten perempuan diantar ayah atau kerabat lelakinya untuk dipertemukan dengan mempelai pria yang menunggu di depan altar. Budaya Jawa punya cara berbeda mempertemukan dua insan yang paling berbahagia di hari itu.

Dalam adat Jawa, temu kedua insan itu dirayakan khusus dalam upacara Panggih, yang secara harafiah berarti ‘temu‘.

Baca juga:
Motif Batik yang Bisa Dipilih Dalam Upacara Pernikahan
 Nincak Endog, Tradisi Pernikahan Adat Sunda yang Patut Dilestarikan

Upacara panggih merupakan puncak acara dari seluruh rangkaian penikahan adat Jawa, dan hanya boleh dilaksanakan setelah sah secara agama. Dalam perhelatan nikah ala Jawa seperti pernikahan Kahiyang-Bobby tanggal 8 November lalu, tiap orang yang melihat prosesi biasanya ikut tertawa sekaligus haru bersama dengan dua mempelai.

Berikut beberapa ritual upacara Panggih:

Penyerahan Sanggan

Sanggan merupakan simbolisasi penebusan manten perempuan. Sanggan tebusan biasanya berupa satu tangkep atau dua sisir pisang raja matang pohon, sirih ayu, kembang telon (mawar, melati, kenanga), serta benang lawe. Seluruhnya ditata dalam keranjang anyaman. Pembawa sanggan berada di depan dari rombongan keluarga mempelai pria.

Balangan Gantal (Lempar Sirih)

Proses melempar ini yang biasanya paling mengundang gelak tawa para tamu undangan. Gantal sendiri sebenarnya daun sirih yang diisi bunga pinang, kapur sirih, gambir dan tembakau hitam lalu diikat benang putih. Prosesi melempar sirih ini melambangkan pertemuan jodoh dua mempelai yang telah diikat dengan benang kasih yang suci, sekaligus melempar semua godaan dalam ikatan suci.

Prosesi lempar sirih. Foto: Warnaindonesiaphoto.com

Ngidak Endhog (Menginjak Telur) atau Wijikan

Prosesi ini dimulai manten pria menginjak telur, kemudian kakinya dibersihkan manten perempuan. Maknanya bakti perempuan pada pria sebagai imam, sekaligus membersihkan diri dari segala halangan yang menghambat tujuan bersama kedua mempelai, keluarga bahagia.

Sindur dan Timbangan

Dalam prosesi ini kain (sindur) disampirkan ke pundak dua mempelai, kemudian diantarkan orang tua mempelai perempuan ke pelaminan. Sang ayah di depan, menarik pengantin dengan mempelai pria memegang keris ayah. Sang ibu di belakang, mendorong kedua mempelai. Harapannya, kedua mempelai bekerjasama dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan hidup.

Selanjutnya kedua pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin wanita sebagai simbol mengukur keseimbangan masing-masing dalam rumah tangga.

Minum Air Degan

Pengantin minum air kelapa yang menjadi lambang air suci. Sebelumnya, air kelapa dikepyok bunga warna-warni dengan harapan keluarga mereka dapat berkembang segalanya dan bahagia lahir batin.

Kacar Kucur

Manten pria mengucurkan penghasilan kepada manten perempuan berupa uang receh beserta kelengkapannya (beras, serta biji-bijian, yang kemudia ditampung di kantung kain. Maknanya bahwa kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga. Kemudian kain itu diikat lalu diserahkan kepada ibu pengantin wanita memiliki makna membantu orang tua.

Dulangan (Dahar Klimah)

Pengantin pria membuat nasi kepal tiga kali lalu menyuapinya ke pengantin wanita. Maknanya adalah perpaduan kasih, kerukunan dan kemantapan hati pasangan dalam berumah tangga.

Mapag Besan

Orang tua pengantin wanita menjemput orang tua pengantin pria atau besan. Maknanya adalah kerukunan antar keluarga kedua mempelai.

 Sungkeman

Dalam penutup rangkaian panggih ini, kedua mempelai berlutut di depan orang tuanya sebagai ungkapan bakti kepada orang tua dan mohon doa restu.

 

Penulis: Ryani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *