Menikmati Perang Kuno Lewat Pasola

Nusa Tenggara Timur (NTT) memang sedang menjadi buah bibir dengan populernya obyek wisata Pulau Komodo yang mendunia. Namun bila Anda mau lebih mengeksplorasi wilayah ini, maka sebenarnya banyak hal yang bisa Anda dapatkan.

Tidak hanya panorama alamnya yang indah, tapi juga adat istiadatnya juga sangat memukau hingga patut untuk ditelisik. Salah satu tradisi unik adalah Pasola yang ada di masyarakat Sumba.

Masyarakat Sumba yang masih menganut agama Marapu, agama asli setempat, sejak turun temurun lah yang menjaga tradisi Pasola ini. Pasola berasal dari kata ‘Pa’ yang artinya permainan dan ‘Sola’ atau ‘Hola’ yang berarti tongkat lembing kayu. Artinya, permainan dengan menggunakan tongkat kayu lembing.

Baca juga:
Ini Dia Tips Ampuh Pilih Kain Tenun NTT untuk Kerja dan Bersantai
Seni Jemparingan, Olahraga Panahan Peninggalan Kerajaan Mataram yang Unik dan Sarat Makna

Meski disebut permainan, namun Pasola bukan sekedar ajang bersenang-senang. Sebab ada makna yang terkandung dalam permainan yang dimainkan oleh ratusan pemuda ini. Makna yang ada dalam permainan ini adalah sebagai permohonan restu kepada Sang Dewa.

Dalam kepercayaan Marapu, tradisi Pasola dianggap akan mampu menjaga keharmonisan antara arwah leluhur nenek moyang dengan manusia. Dari keharmonisan antara manusia dengan leluhur ini diharapkan nantinya Sang Dewa akan memberikan keberkahan dan kemakmuran bagi masyarakat Sumba.

Dalam prosesinya, Pasola akan didahului dengan upacara adat Nyale yang dilakukan untuk meminta restu kepada arwah leluhur dan para Dewa supaya memperoleh panen yang melimpah. Nyale sendiri adalah cacing laut di pinggir pantai. Nyale sendiri akan menjadi pertanda dilangsungkan atau tidaknya Pasola.

Bila para Rato (pemuka suku) menemukan banyak nyale yang sehat, gemuk, dan berwarna-warni itu tandanya Dewa merestui dan Pasola akan dilakukan. Namun bila nyale yang ditemukan kurus dan tidak sehat maka Pasola tidak bisa dilaksanakan. Ketika kemudian Pasola digelar, maka semua warga akan tumpah ruah di sebuah padang rumput yang luas.

Sumber foto: viedelablanche.blogspot.co.id

Setelah dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri dari 100 pemuda lebih pada masing-masing kelompok, maka Pasola pun dimainkan. Dengan bersenjatakan tombak atau lembing kayu yang tumpul dan juga kuda sebagai sarananya, kedua kelompok tadi akan saling serang dengan melemparkan lembing ke arah lawan.

Meski tumpul, namun  lembing kayu tadi bisa jadi melukai dan membawa jatuh korban. Menurut Kepercayaan, ketika muncul korban dalam Pasola ini maka itu bermakna bahwa korban sedang mendapat hukuman dari Dewa karena telah membuat sebuah kesalahan atau pelanggaran.

Upacara Pasola yang juga dilatarbelakangi oleh kisah cinta antara Rabu Kaba dan Teda Gaiparona ini memang seringkali menarik banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Jika Anda tertarik ingin melihat tradisi Pasola, datanglah antara bulan Februari hingga Maret di beberapa tempat di provinsi NTT, seperti di kampung Lamboya, Wonokaka, Gaura, dan Kodi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *