Batik Pemalang Ini Tak Kalah Menarik dengan Batik Jogja, Tapi Mulai Terlupakan

Pemalang merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Kabupaten Pekalongan di sebelah timur, Kabupaten Purbalingga di sebelah selatan, dan Kabupaten Tegal di sebelah baratnya. Pemalang lebih dikenal dengan sebutan Pemalang Kota Ikhlas.

Karena berdekatan dengan Kabupaten Pekalongan yang terkenal dengan kota batik, ternyata di Pemalang juga berkembang batik dengan ciri khas yang unik dan berbeda dengan daerah lain.

Baca juga:
Motif Jelamprang, dari India Hingga Melegenda di Pekalongan
Jalan-Jalan di Kampung Batik Pekalongan

Batik khas Pemalang dikenal dengan nama Batik Pemalangan. Motif Batik Pemalangan tidak berwarna-warni seperti pada umumnya motif batik di daerah Pesisir, namun batik ini lebih banyak menggunakan pewarna alam.

Batik Pemalang memiliki kualitas bagus dengan warna alam, namun daya jual produk tersebut masih kalah dengan daerah lain. Ada beberapa penyebab, yaitu motif batik relatif monoton atau tidak berkembang, serta harganya lebih mahal. Sementara batik dari daerah tetangga, seperti Batik Pekalongan mempunyai corak beragam, memenuhi selera pasar, dan harganya relatif lebih murah.

Kemunculan produk batik warna alam mampu memberi warna tersendiri bagi industri batik di Pemalang. Batik warna alam dibuat dengan pewarnaan ramah lingkungan, dengan menggunakan bahan antara lain kayu dan akar.

Batik warna alami memiliki sejumlah keunggulan dari pewarnaan sintetis. Untuk membuat batik alami memang cukup sulit, terutama dalam pewarnaan dibutuhkan beberapa kali proses celup dan jemur. Kemudian dari sini diperoleh warna yang sangat berbeda dari pada warna sintetis.

Para perajin batik tulis di Pemalang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Petarukan, Taman, dan Comal. Kondisi mereka tidak menentu tergantung pada situasi. Kadang membuat batik kadang tidak. Jika ada stok produksi dan butuh uang, kain batik bisa dijual tidak sesuai dengan standar. Guna menggairahkan kegiatan mereka, Disperindag sedang menjajaki untuk mengubah batik tulis menjadi cap.

Batik Pemalang selama ini kurang menonjol karena masih sedikit perajin setempat yang berani lepas dari pakem. Sehingga produk yang dihasilkan pun monoton pada motif-motif tertentu, seperti motif parang curiga, kepedak, gemek setekem atau sawat rante yang sudah diyakini menjadi ciri khas Batik Pemalang.

Padahal jika melihat situasi pasar saat ini, sejumlah motif itu semakin ditinggalkan. Kalau ada yang masih memakainya, mereka dari kalangan tertentu yang diwajibkan oleh organisasi atau atasannya.

Adapun saat ini pasar lebih suka dengan motif batik yang bebas dan penuh kreativitas. Guna memecah kebekuan industri batik di Pemalang maka perlu keberanian dalam membuat inovasi baru dalam motif dan pewarnaannya. Dengan begitu, batik Pemalang bisa terangkat pamornya.

Perubahan ini dilakukan oleh Fatwa Diana Widi. Beliau mendirikan sebuah usaha batik bernama “Arta Kencana”. Awalnya Arta Kencana hanya menghasilkan dan menjual batik sintetis baik cap maupun tulis. Suatu saat, mulai dikembangkan batik menggunakan pewarna alam pada tahun 2009.

Tidak hanya dengan perkembangan penggunaan warna, Arta Kencana mengembangkan motif batik yang diberi nama Grombyang atau Gromyang. Turunan atau variasi motif yang telah diciptakan dari motif grombyang sudah ada 8 motif.

Terdapat juga motif batik dengan ciri khas kota Pemalang yaitu motif Grombyang atau Gromyang. Grombyang merupakan makanan khas Pemalang, motif ini dijadikan seragam sekolah untuk murid atau guru di Pemalang.

Di sisi lain produk batik alam kreasinya juga mendapat perhatian sebuah lembaga bantuan modal dari Jerman. Bahkan, lembaga itu mengirimkan jurnalis untuk melihat dari dekat proses produksi batik warna alam di Pemalang. Ini membuktikan Batik Pemalang sebenarnya memiliki peluang untuk berkembang, serta meningkatkan pamor yang selama ini tenggelam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *