Tony Herawan, Kolektor Batik Karena “Terpaksa”

Toni Herawan awalnya merupakan seorang karyawan di salah satu perusahaan daerah di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kantornya mengharuskan untuk menggunakan batik saat bekerja setiap hari rabu dan kamis.

Di awal Tahun 2008 saat peraturan itu mulai diberlakukan, ia membeli kain batik untuk dijahit menjadi baju batik. Saat itu batik Lasem belum setenar seperti saat ini dan Toni berkesempatan membeli batik Lasem dengan harga termurah, sekitar Rp 60 ribu. Jika dijual saat ini senilai Rp. 125 ribu.

Baca juga:
Inilah Lukisan Affandi yang Jadi Buruan Kolektor
Batik Harga Rp 200 Juta? Seperti Apa Penampakannya?

Lambat laun Toni menjadi penggemar batik, karena setiap ia sedang perjalan keluar kota hal pertama yang dicari adalah batik dari daerah tersebut. Suatu hari Toni sedang perjalanan liburan ke Bali bersama teman kantor, saat beristirahat di kota Bojonegoro Toni tak sengaja melihat ada sebuah toko souvenir khas kota Bojonegoro yang didalamnya ternyata juga menjual batik khas Bojonegoro. Akhirnya ia pun langsung membeli dua lembar kain batik.

Sampai saat ini Toni sudah mengoleksi batik dari 18 daerah di Indonesia, seperti Yogyakarta, Pati, Tuban, Madura, dan lainnya. Selain dari kunjungannya ke daerah secara langsung cara untuk menambah koleksinya ia juga menitip pada kerabat dan teman ketika sedang keluar kota. Hal tersebut menurutnya cukup efektif untuk menambah koleksinya.

Dari sekian banyak koleksi batik dari beberapa daerah di Indonesia, batik yang paling difavoritkan adalah batik Lasem. Bukan karena ia berasal dari Rembang, tetapi karena motifnya yang cenderung sulit dan penuh. Karena semakin penuh motif yang ada pada kain batik maka tingkat kesulitannya semakin tinggi.

Bila dilihat dari harganya batik Lasem cenderung lebih murah, walaupun tingkat kesulitannya tinggi. Berbeda dengan batik dari daerah lain jika motif dan tingkat kesulitannya tinggi maka semakin mahal pula harganya.

Batik termahal yang dimiliki Toni adalah Batik Tiga Negeri (Lasem) yaitu sebesar Rp 450 ribu. Untuk dana khusus yang digunakan untuk biaya jahit setiap bulannya adalah Rp 150 ribu dan itu pun sudah menjadi dua hingga  tiga potong baju.

Dapat terlihat betapa kayanya seni batik kita, dimana setiap daerahnya mempunyai batik sendiri-sendiri. Kekayaan ragam motif dan corak dari masing-masing daerah menggambarkan karakteristik dari warganya.

Semisal batik-batik dari Jawa Timur cenderung memiliki motif dan hasil pengerjaannya lebih kasar bila dibanding bati-batik dari Jawa Tengah.

Hal ini juga menggambarkan karakteristik dari penduduk lokalnya yang mana orang Jawa Timur cenderung memiliki sikap yang tegas, keras, dan apa adanya, sedangkan orang Jawa Tengah memiliki sifat cenderung kalem, santun, dan sabar.

Hal itu bukan menjadi masalah yang besar tetapi bisa menambah kekhasan dan keunikan seni Batik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *