Menggunakan Teknik Batik Dingin untuk Melukis Sejarah

Bicara proses membatik, orang pasti akan membayangkan canting, kompor, lilin sebagai perintang warna, pewarna, dan tentu saja proses meniup lilin sebelum mempertemukan canting dengan kain.

Melukis batik sesuai pola di atas kain memberikan excitement tertentu bagi orang yang melihatnya. Tetapi pernahkah melihat nuansa “Batik Dingin”?

“Batik Dingin” merupakan nama lain dari teknik Gutha Tamarin. Gutha alias bubur, dan tamarin (asam) merupakan pengembangan teknik membatik menggunakan biji asam yang dihaluskan. Teknik ini tak memerlukan canting dan kompor sehingga identik dengan nuansa adem.

Baca juga:
9 Fakta Unik Tentang Batik yang Wajib Kamu Ketahui
Inilah Alasan Kenapa Batik Pesisir Punya Motif Unik

Bubuk asam kemudian dicampur dengan air dan lemak nabati hingga menjadi pasta, difungsikan sebagai pengganti lilin. Pasta dimasukkan ke dalam plastik segitiga (piping bag) yang dilubangi ujungnya. Melihat proses “batik dingin” ini bak menghias kue menggunakan icing sugar. Sedangkan warna untuk membentuk karakter batik dibalurkan dengan menggunakan kuas.

Awal hingga akhir Agustus lalu bertempat di Galeri Nasional, sebuah perhelatan tak biasa tentang “Batik Dingin” ini digelar di Galeri Nasional.

36 karya dari 34 perupa sekaligus pendidik ini dirangkai dalam benang merah “Visualisasi Ekspresi Pahlawan dan Tokoh Perempuan: Eksplorasi Teknik Gutha Tamarin”. Seluruhnya merupakan perempuan-perempuan pendidik, mulai dari guru TK hingga dosen Perguruan Tinggi, dari Jakarta, Bandung, dan Serang.

Dengan semangat melukis sejarah, inspirasi yang ditampilkan menggunakan teknik “Batik Dingin” ini juga perempuan. Para pahlawan nasional, tokoh pejuang pergerakan, para ibu negara dan Presiden perempuan Republik Indonesia.

Pemilihan tokoh-tokoh tersebut atas dasar pertimbangan keterwakilan daerah-daerah seluruh Indonesia, pahlawan nasional yang telah ditetapkan pemerintah, serta tokoh pergerakan dan perjuangan mewakili kewilayahan Indonesia yang beragam.

Tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah Cut Meutia (Aceh), Opu Daeng Risadju (Palopo) Lasminingrat (pelopor pendidikan dari Garut), Ratu Zaleha (tokoh perjuangan perempuan dari Banjar), Sandiah (Ibu Kasur, Jakarta), Maria E. Thomas (ginekolog perempuan Indonesia pertama, dari Minahasa Utara) dan Herawati Diah (perempuan wartawan terdidik pertama dari Indonesia).

Tak tanggung-tanggung, media yang digunakan dalam karya yang dipamerkan adalah kain sutera. Media kain sutera dipilih agar warna yang keluar lebih nyata. Ketelitian dan konsentrasi tinggi jadi kunci agar batik menciptakan karakter sesuai yang dinginkan. Tak jarang, tiap garisan merintang pasta diikuti “ritual” menahan nafas.

Belum selesai di situ “penderitaan” sang perupa, potensi kegagalan terbesar adalah “mblobor”. Karakter kain sutra yang lembut dengan pori-pori halus membuat proses pewarnaan perlu kehati-hatian ekstra.

Pada prakteknya, sebagian besar karya gagal hampir di ujung, setelah proses “kukus” atau merebus kain. Dalam proses yang vital dalam memperkuat warna ini sering terjadi hal di luar prediksi. Di antaranya perubahan warna jadi pudar, penyusutan kain sutra, hingga perubahan bentuk objek wajah yang dilukis.

Dengan alasan tingginya tingkat kesulitan inilah, pameran juga menyediakan satu ruangan yang khusus memajang karya yang tampak “gagal” namun menyimpan nilai estetikanya sendiri.

 

Penulis: Catur Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *