Seni Jemparingan, Olahraga Panahan Peninggalan Kerajaan Mataram yang Unik dan Sarat Makna

Olahraga memanah sudah bukan menjadi barang asing di masyarakat Indonesia. Pusat olahraga memanah bertebaran di kota-kota besar, jumlah atletnya pun makin banyak. Demikian juga dengann kompetisinya.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Nusantara sudah mengenal olahraga memanah sejak ratusan tahun lalu. Olahraga memanah tercatat sudah dilakoni oleh para prajurit dan keluarga Kerajaan Mataram.

Baca juga:
Ngarot, Tradisi Para Remaja Indramayu yang Unik dan Menarik
Merawat Suku Kajang yang Unik di Sulawesi Selatan

Tradisi memanah di Kerajaan Mataram ini dikenal dengan nama seni Jemparingan. Kesenian ini pada awalnya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para prajurit kerajaan untuk mengasah kemampuan berperang.

Tapi seiring berjalannya waktu, Jemparingan diminati oleh para anggota kerajaan seperti putera dan puteri Raja. Tradisi ini malah dilakoni juga oleh masyarakat luas di sekitaran Kota Solo dan Yogyakarta. Sama seperti saat ini, pada abad ke-18 hingga awal abad 19 di wilayah Kerajaan Mataram banyak terdapat pusat Jemparingan juga.

Sebagai warisan dan tradisi Kerajaan Mataram, seni Jemparingan punya keunikan tersendiri dibanding olahraga memanah modern. Sebab, seni ini dilakukan dengan posisi duduk bersila dan bukan berdiri.

 

Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ed/1nz/5.

Tidak hanya duduk bersila, pemanah juga harus mengenakan pakaian adat Jawa seperti jarik, beskap, blangkon, dan bahkan melengkapi diri dengan keris. Sedangkan untuk pemanah perempuan harus mengenakan pakaian kebaya khas Jawa.

Dengan duduk bersila dan menyamping, pemanah membidik sasaran berupa bedor atau wong-wongan (orang-orangan). Pemanah harus mengenai orang-orangan yang memiliki diameter 3,5 cm dan panjang sebanyak-banyaknya.

Seni Jemparingan khas dilakukan sambil duduk bersila lantaran pada zaman itu para bangsawan memanah sambil melakukan aktivitas lain, seperti ngobrol santai sambil menikmati teh, kopi serta makanan ringan. Dengan duduk juga diyakini kegiatan Jemparingan akan bisa dilakukan dengan nyaman dan menyenangkan.

Menurut banyak pakar sejarah, seni Jemparingan di masa Kerajaan Mataram bukan dilakukan sebagai olahraga, tapi sebagai kegiatan untuk menyenangkan dan menenangkan jiwa. Masyarakat Jawa menyebutnya dengan istilah “klangenan”.

Dengan segala keunikannya, seni Jemparingan saat ini kembali berkembang dan banyak digemari masyarakat dan juga wisatawan. Bahkan wisatawan asing pun tak ketinggalan untuk mencoba melakukan Jemparingan  di acara-acara budaya di sekitaran Solo dan Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *