Merawat Suku Kajang yang Unik di Sulawesi Selatan

Di Banten kita mengenal keberadaan suku Badui yang merupakan salah satu suku pedalaman di tanah Jawa. Suku Badui sendiri terdiri dari dua bagian, suku Badui Luar dan Badui Dalam.

Anggota suku Badui luar memiliki pola hidup yang lebih menerima perkembangan zaman. Sedangkan Badui Dalam lebih tertutup, bahkan tamu yang berkunjung ke Badui Dalam pun dilarang membawa beragam perangkat elektronik, termasuk telepon genggam.

Baca juga:
Dangke, Keju Khas Indonesia Asal Enrekang, Sulawesi Selatan
Tradisi dan Budaya Suku Rote Ndao Tercatat dalam Sebuah Tenun

Ternyata di Sulawesi Selatan juga terdapat suku yang memiliki pola hidup mirip dengan suku Badui di Banten. Suku bernama suku Kajang ini memang tidak sepopuler Badui, namun eksistensi mereka masih ada hingga kini.

Suku Kajang hidup di kawasan Bulukumba, 200 km dari kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sama seperti Badui, terdapat dua bagian suku Kajang yang hidup saat ini, Kajang Luar dan Kajang Dalam.

Kajang Luar, atau mereka menyebutnya dengan Tau Lembang, hidup di sekitaran dusun inti dari Kajang Dalam. Pola hidup mereka lebih terbuka terhadap peradaban modern, seperti penggunaan listrik dan pakaian yang lebih beragam.

Sedangkan Suku Kajang Dalam, atau disebut Tau Kajang lebih tertutup dengan tidak menerima perkembangan zaman. Di ammatoa, tempat bermukimnya Kajang Dalam tidak ada listrik. Bahkan, seluruh tamu luar desa yang hendak mengunjungi ammatoa tidak diperkenankan menggunakan alas kaki.

Foto: ammatoa.com

Soal pakaian, seluruh anggota Kajang Dalam hanya mengenakan warna hitam di seluruh pakaian sehari-hari mereka. Bukan tanpa alasan, mereka percaya bahwa warna hitam menunjukkan persamaan derajat dan kesederhanaan karena semua hitam adalah sama. Tidak seperti warna merah atau hijau yang memiliki banyak turunan warnanya.

Bentuk rumah anggota Tau Kajang juga sangat unik. Jika orang kebanyakan menempatkan dapur dan jambannya di bagian belakang, maka rumah-rumah di ammatoa justru menempatkan dapur dan jamban mereka di bagian depan rumah.

Alkisah, pada zaman perang antar suku ratusan tahun lalu, para prajurit Kajang sering berhenti di rumah warga setempat untuk meminta makanan atau sekedar buang air. Maka dari itulah, para pemilik rumah mempersilakan para prajurit untuk mengambil santapan seperlunya tanpa perlu masuk ke rumah.

Selain itu, menurut catatan sejarah, para prajurit Kajang memiliki kepercayaan apa yang ada di dalam rumah merupakan milik mereka juga. Sehingga, para pemilik rumah khawatir anak atau istri mereka diambil para prajurit.

Rumah-rumah di ammatoa seragam menghadap ke barat. Bagi masyarakat Kajang Dalam, memunggungi matahari terbit berarti berkat yang melimpah bagi keluarga mereka.

Berbeda dengan suku Badui yang masih menganut kepercayaan lokal, anggota suku Kajang Dalam rata-rata telah memeluk Islam namun telah berasimilasi dengan kepercayaan lokal. Dalam bahasa Makassar gaya Konjo, bahasa utama mereka, disebut juga dengan Sallang. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *