Tak Main-Main, Warga Semarang Ciptakan Kain Batik 66 Meter

Warga Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Jawa Tengah yang tergabung dalam paguyuban Kampung Batik Semarang Timur berhasil melahirkan batik yang ditorehkan di atas kain sepanjang 66 meter.

Kain batik superpanjang itu kemudian diarak mengelilingi kampung batik yang berlokasi di kelurahan Rejomulyo (14/10) lalu. Selepas berkeliling kampung, para pemuda yang kebagian mengarak kain itu langsung menggelar siraman massal dengan menggunakan air yang berasal dari sebuah mata air yang ada di tengah desa.

Baca juga:
Tak Banyak yang Tahu, Batik Semarang Ternyata Sudah Ada Ratusan Tahun
Jalan-jalan ke Semarang? Wajib Coba Kuliner Ini Sambil Menikmati Indah Langit Senja

Kegiatan ini digelar bukan tanpa alasan. Menurut penuturan peserta, kain batik 66 meter ini dibuat untuk memperingati terjadinya pertempuran lima hari yang terjadi di semarang.

Pertempuran lima hari merupakan salah satu peperangan yang tersingkat, tapi juga terbesar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Pertempuran tersebut terjadi antara pemuda Indonesia dengan tentara pendudukan Jepang yang masih enggan angkat kaki dari Indonesia walau Indonesia telah menyatakan diri sebagai negara yang merdeka.

Pertempuran lima hari di Semarang terjadi pada tanggal 15 Oktober hingga 19 Oktober 1945.

Menurut ketua Paguyuban Kampung Batik Eko Haryanto, kirab kain batik 66 meter ini juga merupakan rangkaian dari Festival Batik yang digelar di Semarang Timur.

“Ceritanya, saat pertempuran lima hari itu, kampung batik ini terbakar habis. Warga sekitar memadamkan desa dengan memakai air dari sumur yang ada di tengah desa,” tambahnya seperti dikutip oleh Tribunnews.com.

Karya kain batik 66 meter ini juga bukan tanpa makna. Menurut Eko, kain batik yang amat panjang ini merupakan sebuah bentuk gotong royong dan tolong menolong di antara sesama warga kampung batik yang ingin membangun kembali kampung mereka, sama seperti saat mereka bersama memadamkan api di tengah pertempuran lima hari.

Dengan adanya karya ini diharapkan nama kampung batik akan kembali bersinar, tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *