Tak Beroperasi, Pabrik Gula Kendal Kini Jadi Objek Wisata

Tak mau kalah dengan kota Semarang yang menyulap Lawang Sewu menjadi objek wisata, maka di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah mempunyai Pabrik Gula Cepiring yang kini dijadikan objek wisata. Bangunan kuno yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1835 ini, kini telah menjadi tempat wisata baru nan murah.

Hanya dengan mengeluarkan uang Rp 5.000, pengunjung bisa menikmati eksotisme bangunan pabrik kuno yang dulu dijadikan tempat produksi gula. Di kawasan pabrik ini, Anda juga akan disuguhkan bangunan rumah-rumah tua yang dulu menjadi para pegawai pabrik ini.

Baca juga:
Menikmati Cantiknya Kota Solo dengan Kereta Uap Jaladara
Mengintip Indahnya Batik Kuno di Museum Batik Pekalongan

Pabrik gula Cepiring memiliki area yang luasnya sekitar 26 hektar. Lokasinya begitu strategis dan sangat mudah ditempuh, karena terletak di pinggir jalan raya Cepiring. Kalau dari kota Kendal, dengan naik bus, cukup mengeluarkan kocek Rp 3.000.

Menurut Artur Alexander Thies , Humas Pabrik Gula Cepiring, pabrik gula Cepiring sudah berhenti beroperasi sejak akhir 2015 lalu. Selama hampir 2 tahun itu, pabrik ini tidak memiliki pemasukan.

Seperti kata pepatah, ‘Tiada rotan, akar pun jadi’. Maka kemudian, muncullah ide dan trobosan untuk membuka agrowisata yang memanfaatkan bangunan ini.

Kereta yang pernah dipakai untuk membawa tebu di Kendal. Foto: putrakembarpunyablog.blogspot.com

“Tanggal 1 Oktober kemarin, tempat wisata pabrik gula resmi kami buka,” tutur Artur.

Sesuai dengan filosofinya, ‘ada gula, ada semut’, setelah dibuka sebagai objek wisata memberikan hasilnya cukup baik. Sebab tidak cuma masyarakat Kendal yang datang ke tempat wisata pabrik gula ini, tetapi wisatawan juga berdatangan dari luar kota. Bahkan wisatawan asing tertarik dengan bekas pabrik gula ini.

Menurut Artur, ada juga turis asing dari Belanda yang datang untuk napak tilas. Sebagian besar menanyakan dan melihat tempat leluhurnya tinggal atau bekerja. “Kalau wisatawan lokal, kebanyakan hanya menikmati bangunan kuno dan swafoto dengan latar belakang bangunan kuno,” terang Artur.

Selain wisata heritage, pihak pabrik juga menawarkan wisata edukasi bagi wisatawan yang ingin mengetahui proses pembuatan gula kristal.

Wisatawan bisa juga melihat Tradisi Wiwitan yakni mengarak pengantin tebu terbuat dari batang tebu yang didandani seperti layaknya pengantin suami-istri. Tradisi ini diadakan saat mau mengawali menggiling tebu.

“Di sini, juga ada fasilitas yang bisa dinikmati para wisatawan. Mulai kolam renang, taman bermain, gedung serbaguna, sport center, dan lain sebagainya,” pungkasnya.

 

Sumber: Kompas Travel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *