Merawat Lingkungan Sekaligus Wisata, Hanya di Festival Batang Arut

Terdapat hampir seratus getek atau sampan dan sedikit kelotok atau perahu yang lebih besar di Sungai Arut, Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, Minggu (8/10/2017). Bertajuk Festival Batang Arut, perahu-perahu tersebut berhias dan mempercantik diri dengan nuansa Etnis Dayak dan Melayu.

Sebuah perahu besar, dari Kelurahan Baru, kampung tepi Sungai Arut, tampak gagah dengan mengusung replika Rumah Betang, rumah adat Suku Dayak.

Baca juga:
Sungai Air Hitam, Destinasi Wisata Eksotis Perbatasan Kalimantan Utara
Bagarakan Sahur, Tradisi Turun Temurun Sahur di Kalimantan Selatan

Pada bagian ujung haluan perahu, terdapat replika kepala burung Enggang dengan mulutnya yang panjang. Sementara di bagian buritan perahu, dihiasi replika ekor enggang. Burung enggang adalah salah satu ikon Etnis Dayak, di Kalimantan Tengah.

Terdapat juga perahu lainnya yang didominasi warna kuning dan pemakaian Taluk Belanga, busana khas Melayu yang dikenakan peserta festival.

Sementara puluhan perahu kecil atau getek menghias diri dengan kain kuning dan warna-warni bendera. Beberapa di antara getek itu, menampilkan aksi teatrikal yang membawa ibu-ibu hamil tua.

Sungai Arut merupakan panggung nyata kehidupan Suku Dayak dan kemudian Melayu di era Kerajaan Islam Kotawaringin sejak berabad-abad silam. Seperti lazimnya sungai-sungai besar lainnya di Pulau Kalimantan, Sungai Arut menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sekitar.

Namun, kondisi sungai yang bermuara ke Laut Jawa itu sudah berbeda bila dibandingkan dengan puluhan tahun lalu. Kini warna sungai itu keruh akibat limbah pabrik dan pertambangan di hulunya.

Transportasi sungai yang menjadi andalan pun menyusut jumlahnya, karena tergantikan dengan moda transportasi darat. Tiada lagi kisah orang hamil susah payah diangkut dengan sampan dalam kehidupan sehari-hari seperti dulu kala.

Melalui Festival Batang Arut, Kepala Dinas Pariwisata Kotawaringin Barat mengatakan, pihaknya ingin mengajak masyarakat mengembalikan kelestarian lingkungan sungai yang telah rusak, sekaligus mengembangkan potensi sungai sebagai aset wisata alam.

Dengan format festival saat ini, Pemkab Kotawaringin Barat menambahkan agenda lomba Kayuh Belawanan. Ini merupakan lomba mengayuh dengan satu perahu, namun dengan arah berbeda di dua sisinya.

“Dengan pebangunan infrastruktur, terbuka akses. Bantaran sungai, Insya Allah ke depan tetap kita pertahankan, untuk terutama kegiatan pariwisata, promosi daerah, UMKM, dan terutama untuk susur sungai,” janji Bupati Kotawaringin Barat, Nurhidayah.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Tengah, Yommie Kamale menyarankan, agenda seperti ini seharusnya dipersiapkan lebih matang lagi, dan dipromosikan jauh-jauh hari agar bisa diintegrasikan dengan tawaran paket perjalanan wisata yang sudah eksis sebelumnya.

Menurut Yommie, di bulan Oktober kunjungan wisatawan mancanegara di Taman Nasional Tanjung Puting yang menjadi andalan Kalimantan Tengah selama ini terbilang masih tinggi.

Ia mengatakan, agenda budaya seperti Festival Batang Arut bisa berpotensi memperpanjang masa kunjungan wisatawan di wilayah tersebut.

 

Sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *