Merekalah Para Penggaung Batik ke Panggung Fesyen Internasional

Melewati ribuan masa, batik hingga kini masih terus bertahan. Hal tersebut tak lepas dari jasa para desainer Indonesia yang terus menjaga warisan bangsa. Mereka tak bosan berkreasi dan terus menghidupkan batik, tidak hanya di Tanah Air tapi juga di menggaungkan batik ke panggung fesyen internasional.

Iwan Tirta

Foto: imgrum.com

Kiprah Iwan Tirta begitu berkilau ketika batik rancangannya digunakan sebagai pakaian tradisional yang dikenakan kepala negara pada pertemuan APEC tahun 1994. Pria lulusan Yale University, Amerika Serikat ini tertarik mengenal batik sejak ia menerima dana hibah dari John D. Rockefeller the Third untuk mempelajari tarian keraton Kasunanan Surakarta.

Baca juga:
Erwin Sosrokusumo Konsisten Geluti Batik Tulis Sampai ke Luar Negeri
Bagaimana Merawat Batik Ala Museum Batik Pekalongan

Semenjak itu, hingga akhir hayatnya Iwan terus mengembangkan batik khas Indonesia,memberikan pendidikan batik, melakukan penelitian tentang batik, hingga mempromosikannya ke kancah internasional.

Kecintaannya terhadap batik semakin memuncak pada 1966. Saat itu Iwan menyelesaikan sebuah buku berjudul Batik Pattern and Motifs yang merinci aspek historis dan sosiologis batik. Karya batiknya meskipun modern tapi tetap berpegang pada pakem desain batik khas Indonesia.

Ghea Panggabean

Foto: jfff.info

Rekam jejaknya pada dunia fesyen sudah tak diragukan lagi. Wanita lulusan Lucie Clayton College of Dress Making Fashion Design dan Chelsea Academy of Fashion justru merintis kariernya di Tanah Air dengan mengangkat motif kain tradisional.

Salah satu kreasinya Ghea adalah mengembangkan Batik Garut dan Batik Kudus. Dia memadukan kain batik dengan atasan kebaya khas rancangannya. Ghea mengeksplor batik Kudus dengan memberikan corak yang dipengaruhi oleh budaya Tionghoa.

Sambutan hangat tidak hanya dia terima di Tanah Air, di luar negeri pun pujian terus mengalir ketika Ghea mengemas kain tradisional di dalam sebuah peragaan busana di Kota Milan.

Carmanita

Foto: jfff.info

Desainer asal Bandung ini berasal dari keluarga pengrajin batik di Jawa Tengah. Dia kembali ke Tanah Air pada 1980 setelah menyelesaikan pendidikan yang fokus pada ilmu ekonomi di University of San Fransisco. Namun pulang ke Indonesia ia malah tertarik menekuni bidang yang telah sekian lama digeluti leluhurnya, yakni membuat batik.

Label Carmanita menjelajah jauh sampai ke benua Eropa. Seperti di Departemen Store Harrods, dia juga memamerkan karyanya di Eropa, Amerika Serikat, Afrika, dan Jepang.

Kreasi batiknya bahkan melewati batas imajinasi para perancang. Carmanita menggoreskan batik tak hanya di atas kain lycra, tapi juga mobil Mercedes Benz dengan motif Sekar Jagad dengan teknik cat semprot hingga ban mobil GT Radial dengan motif Parang Lereng yang langsung dicetak dan diproduksi di pasar internasional.

 

Sumber: CNN Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *