Sukatno, Kerajinan Bambu, dan Mimpinya Membangun Desa

Sukatno merupakan putera asli Trenggalek, Jawa Timur. Sejak kecil ia terbiasa melihat kerajinan bambu karena ia lahir dari pasangan pengrajin bambu. Orang tuanya dikenal sebagai pembuat topi caping yang biasa dipakai oleh petani.

Desa Wonoanti, tempat Sukatno tumbuh dipenuhi oleh hutan bambu. Tak ayal banyak warga desanya yang menggantungkan hidup dari kerajinan bambu. Sampai ada lelucon di kalangan masyarakat desa itu yang menyebutkan kalau anak-anak yang tumbuh di Wonoanti pasti tangannya kasar karena terlalu banyak bermain bambu.

Baca juga:
Aplikasi Batik Pada Bambu, Bagaimana Cara dan Prosesnya?
Mengunjungi Sentra Kerajinan Jaket Kulit Garut di Sukaregang

Namun minatnya terhadap kerajinan ini baru timbul setelah Sukatno menikah. Ia baru menggeluti dunia kerajinan bambu tahun 1991.

Mulai saat itu ia terus mengembangkan kemampuannya dalam mengolah buluh bambu. Awalnya ia cuma bisa mengolah bambu menjadi topi petani, sama seperti kemampuan orang tuanya.

Sukatno tak mau hanya membuat topi caping. Ia berkreasi membuat produk lain yang lebih berguna bagi masyarakat luas, seperti tempat lampu, tudung saji, piring bambu, aneka keranjang, dan lemari kecil. Bahkan Sukatno juga telah mampu memproduksi meja makan dari bambu.

Kiprahnya langsung terdengar pemerintah kala itu. Ia pun memiliki kesempatan untuk meluaskan pasarnya ke luar Jawa Timur, bahkan hingga luar negeri. Ia mengatakan, tiap bulan mengirim setidaknya dua kontainer produk kerajinan bambu ke Amerika Serikat. Walau ia mengakui labanya terbilang kecil, namun ia bangga dengan pencapaian itu.

Sayang, tak lama berselang pelanggannya yang di Amerika Serikat meninggal, sehingga order kerajinan bambu pun tidak berlanjut. Sukatno harus berjuang untuk mencari pasar lagi. Namun fokusnya kali ini bukan unutk kebutuhan ekspor.

“Desa Wonoanti sudah terkenal itu saya sudah bangga,” ujarnya seperti dituturkan oleh lensaindonesia.co.id.

Ia mengaku cita-cita terbesarnya justru bukan untuk mengeruk laba sebanyak mungkin, tapi justru untuk menjadikan Wonoanti sebagai desa wisata.

Tak sekedar angan-angan, impian Sukatno mulai menjadi nyata. Saat ini Wonoanti tidak cuma menjadi pusat produksi, tapi juga pusat wisata bambu. Para wisatawan yang datang ke Wonoanti berkesempatan untuk belajar untuk mengolah bambu hingga menjadi barang yang penuh fungsi.

Tekad Sukatno bulat. Ia pernah didatangi perusahaan asal Korea Selatan yang mengaku ingin membuka pabrik bambu dengan memberdayakan warga desa itu. Perusahaan itu meminta Sukatno untuk mengumpulkan sekitar 70 warga desa untuk diberi pelatihan. Sukatno diiming-imingi akan menjadi manajer pabrik.

Tanpa ragu ia menolak tawaran menggiurkan itu. Sebab, menurutnya tawaran itu akan menguntungkan dirinya tapi tidak dengan warga desa lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *