Yuk, Jalan-Jalan ke Museum Batik Danar Hadi

Siapa yang tidak kenal Danar Hadi? Bicara soal industri batik, orang ini memang salah satu pakarnya. Nama Danar Hadi lebih dikenal sebagai pembuat dan sebuah gerai batik yang kesohor di Indonesia.

Tidak banyak yang tahu bahwa ia juga memiliki museum . Namanya Museum Batik Danar Hadi yang terletak di   Jl. Slamet Riyadi 261 Solo, buka dari jam 09.00 – 17.00. Untuk masuk kesana, kalian harus beli tiket masuk, per orangnya 30.000 rupiah yang bisa kalian bisa membelinya di gerai Danar Hadi.

Di museum, kalian sudah disiapkan tour guide yang siap mengantar kalian keliling museum. Museum Danar Hadi terdiri dari 11 ruangan, yang setiap ruangan berisi koleksi yang berbeda-beda. Di ruangan pertama terdapat  batik yang dibuat oleh orang asing dan dinamakan dengan nama si pembuat.

Baca juga:
Danar Hadi Bersiap Ubah Konsep Bisnis Batiknya
Jelajah Museum Batik Jawa

Diceritakan juga sejarah batik-batik yang ada. Motif-motif batik sesuai acara, mana yang boleh dipakai perempuan, mana yang tidak, mana motif yang diperuntukkan untuk raja, permaisuri, selir dan sebagainya. Semua batik yang ada di sana adalah koleksi pribadi dan jumlahnya sekitar 5.000 kain. Batik-batik itu berangka tahun pembuatan antara 1840-1910.

Sejumlah kain batik kuno dengan motif khusus menempati satu ruang di bagian dalam yang cukup luas. Di ruangan yang didesain dengan atmosfer aristokrat ini, terpajang puluhan potong kain batik yang amat langka. Batik-batik itu pada zamannya hanya dibuat khusus untuk para raja atau bangsawan tinggi setingkat adipati dan pangeran.

Pada masa itu, batik-batik dengan motif-motif khusus tersebut merupakan batik sengkeran yang dilarang keras dikenakan oleh orang awam. Larangan yang dikeluarkan raja itu menimbulkan efek psikologis bahwa batik dengan motif seperti Parang Barong, Udan Liris, Semen Ageng, Semen Gurda mengandung sifat magis dan sakral. 

Koleksi-koleksi itu sebagian diperoleh langsung dari empat istana di Solo dan Yogyakarta; yakni Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran serta Pura Pakualaman. Ada beberapa kain koleksi PB X dipajang di satu sudut dengan foto diri Raja Surakarta itu beserta permaisuri GKR Emas.

Di sudut lain, sejumlah kain koleksi Pura Mangkunegaran yang sebagian merupakan karya tulis (alm) Nyi Ageng  Mardusari, salah seorang selir KGPAA Mangkoenagoro VII yang dikenal sebagai pesinden dan pembatik ulung. Karya batik Nyai Mardusari seperti Bogas Pakis memang amat elok, begitu pula karya KRAy Mangunkusumo, Gragah Waluh. Atau koleksi lain seperti Parang Sarpa.

Warna soga-nya yang kekuningan dipadu dengan motif yang berlatar kebiruan menghasilkan nansa yang mengesankan. Nuansa soga pun setiap istana memiliki ciri masing-masing. Batik Kasunanan cenderung coklat kemerahan, Batik Kasultanan coklat dan kontras dengan latar putihnya, sedang Batik Pakualaman cenderung krem. Adapun sejumlah kain koleksi dari Keraton Kasultanan Yogyakarta serta Pakualaman menempati sudut yang lain.

Di antaranya kain kemben liris koleksi permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, serta batik Lereng Huk dari Pura Pakualaman. Ada pula koleksi kain dodot yang khusus dikenakan untuk busana tari Bedhaya Ketawang. Kain dodot biasanya berukuran panjang 4,5 meter dengan lebar 2,25 meter. Motifnya disebut alas-alasan yang menggambarkan isi hutan, dengan bentuk stilisasi (hewan dan tumbuhan) yang sederhana. Warnanya hijau polos, sedang lukisannya menggunakan bahan perada emas.

Koleksi lain yang bisa dinikmati adalah Batik China, Batik Jawa Hokokai (batik yang terpengaruh oleh kebudayaan Jepang), Batik Pesisir (Kudus, Lasem, Pekalongan), Batik Sumatra, Batik Saudagaran, Batik Petani, Batik Kontemporer, dan berbagai jenis batik lainnya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Batik Cirebon. Selain pengaruh China, jenis batik ini memiliki motif-motif sayap yang menunjukkan pengaruh budaya Hindu dari Kerajaan Mataram Kuno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *