Istri di Balik Kesuksesan Danar Hadi

Santosa Doellah mulai merintis usaha Batik Danar Hadi pada tahun 1967, pada usia 26 tahun, dengan 20 orang pembatik setelah menikahi wanita idamannya, Danarsih.

Nama istrinya itu pula yang memberikan inspirasi kepada Santosa dalam memberi nama usaha batiknya itu dengan mengambil dua suku kata pertama nama istrinya dan nama depan bapak mertua (ayah istrinya). Yaitu ‘Batik Danar Hadi’ sebagai merek batik produksi Santosa.

Baca juga:
Jiwaning Jiwo Karya Desainer Asal Sukoharjo
Iwan Tirta, Desainer dan Maestro Batik Ternama Indonesia yang Mengahrumkan Nama Bangsa

Modal usahanya ditambah hadiah pernikahan dari kakek-neneknya berupa 29 pak kain mori jadi dan 174 lembar kain batik. Santoso Doellah belajar batik sejak usia 15 tahun dari keluarga kakeknya R.H.Wongsodinomo. Keluarga istri Santoso Doellah juga keluarga pembatik.

Santosa Doellah memulai usaha batiknya dengan mempekerjakan 20 orang karyawan yang terdiri dari pembatik, pencelup dan penggambar motif. Kegiatan usaha batik Santosa diawali dengan memproduksi batik tulis Wonogiren. Batik tulis motif Wonogiren produksi perdana Santosa dengan merek Batik Danar Hadi laku di pasar.

Pada tahun 2012, Institut Seni Indonesia Surakarta menyematkan gelar “Empu Batik” kepada Santosa, atas jasa-jasanya dalam menciptakan motif batik. melestarikan batik dan memajukan industri batik.

Adanya batik danar hadi merupakan salah satu dari sekian batik yang diciptakan oleh salah satu desainer bangsa Indonesia yang akhirnya melahirkan tidak hanya jenis dan model dengan menggunakan kain batik.

Namun melahirkan brand besar yang bahkan dipercaya masyarakat luar untuk menggunakan batik milik Santosa Doellah, baik jenis batik klasik maupun jenis batik modern yang dipadupadankan dengan berbagai kain lain sehingga semakin bagus.

Tak hanya karena telah menciptakan lebih dari 300 motif batik atau mendirikan Museum Batik Kuno Danar Hadi, dengan koleksi lebih dari 10.000 lembar batik, dia juga dianggap memenuhi berbagai kriteria lain. Di tangan Santosa Doellah, batik menjadi industri yang menghidup

Semua itu yang membuat ISI mengukuhkannya sebagai empu. Karya-karya Santosa dinilai tak lekang dimakan zaman dan dapat dijadikan rujukan dunia pendidikan.

Gelar empu dalam dunia akademik setara dengan kompetensi doktor berkemampuan profesi spesialis. Di tengah segala pencapaiannya, Santosa tetap rendah hati. Selain berucap terima kasih dan menyatakan bangga atas anugerah itu, dia juga mengatakan dirinya sebenarnya bukan apa-apa.

Santosa Doellah memiliki empat orang anak yaitu Diah Kusuma Sari Santosa (meninggal dalam kecelakaan lalu lintas), Diana Kusuma Dewati Hariyadi, Dewanto Kusuma Wibowo, dan Dian Kusuma Hadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *