Ini Dia Kelebihan dan Kekurangan Pewarna Alami

Salah satu unsur menarik dalam motif batik adalah warna. Saat ini dapat Anda lihat batik-batik beraneka warna dengan berbagai kombinasi dan komposisi menarik. Sebelumnya, warna batik juga mengalami perjalanan sejarah dan perkembangan yang melibatkan sumber warna, jenis, teknik, makna, pengaruh budaya, hingga selera masyarakat.

Zat pewarna batik dibedakan menjadi pewarna alami dan kimia. Pewarna alami berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti biji buah, kulit dan akar pohon, dedaunan, dan lain-lain. Pewarna kimia berasal dari zat kimia / sintetik yang dapat menghasilkan banyak varian warna dengan berbagai tingkat kecerahan.

Baca juga:
Komitmen Eriana Dewi Dalam Menggunakan Pewarna Alami
Bantul Kembangkan Pertanian Bahan Pewarna Alami Batik

Pada awal perkembangan yaitu sebelum hingga zaman terpecahnya Kerajaan Mataram menjadi Keraton Yogyakarta dan Surakarta, batik memakai sumber warna alami. Batik hanya menampilkan beberapa warna tertentu saja disebabkan karena sumber warna alami tidak dapat menghasilkan banyak varian warna, serta faktor ketidaktahanan warna pada kain dari warna alami tersebut.

Batik Pedalaman yang berkembang di Kerajaan Mataram banyak memakai warna sogan (coklat), hitam, wedel (biru tua), dan putih. Adapula warna merah tua yang berkembang di daerah pesisiran. Warna merah tua dan biru tua menjadi ciri khas Batik Pesisiran pada awal perkembangannya (selama abad 19). Kombinasi warna-warna tersebut adalah warna klasik atau tradisional.

Warna coklat sogan kekuningan hingga coklat kemerahan didapat dari tumbuhan kayu Tegeran (cudrania javanensis), kulit kayu Jambal (peltophorum pterocarpum), kulit kayu Tingi (ceriops tegal perr), dan kayu Secang (caesalpinia sappan). Warna biru didapat dari ranting dan daun tanaman perdu Nila (indiegofera tinctoria L). Warna merah berasal dari akar mengkudu (morinda citrifolia).

Pewarna alami sangat dipengaruhi oleh kandungan tanah dan mineral dalam air setempat. Hal ini menyebabkan beberapa daerah mempunyai warna spesial yang terkadang tidak dapat dihasilkan daerah lain. Salah satu faktor munculnya Batik Tiga Negeri adalah untuk menampilkan komposisi warna spesial.

Batik tiga negeri ini biasanya menampilkan warna merah tua dari Lasem (biasa disebut merah darah ayam), warna biru dari Pekalongan, dan warna coklat (sogan) dari Surakarta atau Yogyakarta). Artinya produksi warna untuk selembar batik tiga negeri dilakukan di tiga daerah tersebut.  Kombinasi warna tiga negeri tetap diteruskan hingga kini walau sudah memakai warna kimia.

Pengusaha Batik Indo Eropa pada awal perkembangan Batik Belanda sekitar tahun 1850-1990 juga mewarnai batiknya memakai bahan alami. Salah satunya adalah Von Franquemont, yang terkenal tidak hanya dalam motif-motif khas Eropa namun juga dalam warna batik yang ia ciptakan. Von Franquemont menampilkan warna hijau khas (hijau kebiruan) yang didapat dari bahan alami dan tidak mudah luntur. Formulanya sangat dirahasiakan. Beberapa pembatik kerap mencoba meniru warna tersebut seperti Van Oosterom.

Bagaimana kemudian pewarnaan sintetis menjadi pilihan lain bagi para pembatik?Baca di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *