Berkunjung ke Kota Solo Jangan Lupa Cicip Sate Kere Langganan Jokowi

Kota Solo dikenal oleh masyarakat luas sebagai salah satu syurganya kuliner di tanah Jawa. Kota ini merupakan tanah kelahiran Presiden Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi. Tentunya di kota ini Jokowi punya beberapa rumah makan langganan. Salah satunya adalah rumah makan yang menjual menu Sate Kere, hidangan favorit Jokowi dan keluarga.

Sate Kere buatan Tugiyem (51) yang tertelak di Jalan Arifin No 63, Tepatnya di parkiran Depot Es Nini Thowong.

Marimin (58), suami Tugiyem menuturkan, Sate Kere ini konon sudah ada sejak zaman Pasar Klewer berdiri. Kata orang dulu, Sate Kere ini jualnya pakai gendongan.

“Di atas kepala ditaruh arang bakaran. Kalau angin sedang kencang apinya nyala, jadi kadang orang kira itu kebakaran,” jelas Marimin.

Secara bahasa, kere dalam bahasa Jawa berarti miskin. Sate Kere muncul pertama kali era zaman kolonial yang Kala itu sate merupakan menu makanan mahal karena berbahan dasar daging.

Orang Indonesia kemudian berinovasi dengan membuat menu tandingan sate dalam versi mereka yang memiliki kocek terbatas. Bahan dasar sate yang digunakan adalah tempe, tempe gembus (terbuat dari sari kacang kedelai), dan berbagai jeroan.

Walaupun dibuat dari bahan yang sederhana, namun jangan remehkan rasa yang dihasilkan. Sate Kere buatan Tugiyem sangat empuk dan bumbunya menyerap sempurna.

“Favorit orang-orang biasanya sate ginjal. Kalau kata orang sate saya enak soalnya bumbunya pedas,” ujar Tugiyem.

Bumbu yang digunakan untuk menyantap Sate Kere ini adalah bumbu kacang yang menyerupai bumbu pecel, namun lebih kental. Bumbu kacang buatan Tugiyem ini kaya akan rasa gurih, manis, asam, dan dihiasi aroma daun jeruk.

Sebelum dibakar, sate direndam terlebih dahulu dengan campuran bumbu rahasia keluarga sehingga seluruh bumbu terasap sempurna pada Sate Kere. Meski hanya berjualan di gerobak, sate buatan Tugiyem ini tak pernah sepi pembeli.

“Ini bumbunya sampai sengaja dipesan orang untuk dibawa ke luar kota, sampai ke Australia dan Inggris juga. Bisa awet sampai satu bulan,” ungkap Tugiyem.

Bersama suami tercinta, Tugiyem melayani pembeli sate dari pukul 13.00 WIB sampai dagangannya ludes dibeli pembeli. Pada akhir pekan, Tugiyem mendapat penghasilan sebesar Rp2 juta dari berjualan sate.

Uniknya, meski ramai pembeli, Tugiyem enggan untuk pindah lokasi dan menaikkan harga satenya. Satu tusuk sate tempe dihargai Rp 1.500, 10 tusuk sate jeroan dihargai Rp 22.000, dan lontong dihargai Rp 3.000. Sangat ekomonis kan harga sate Tugiyem!

Padahal putra sulung Jokowi, Gibran Rangkabuming Raka pernah menawarkan kios kepada Tugiyem. Tapi ia menolaknya, walaupun Gibran berusaha meyakinkan Tugiyem bahwa satenya pasti lau karena banyak dicari orang.

“Saya tidak mau, takut tidak laku kalau pindah ke kios,” tegas Tugiyem.

Tugiyem pun sering diundang ke kediaman Jokowi untuk memasak sate saat ada acara khusus yang diadakan keluarga.

 

Sumber: Kompas Travel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *