Tak Cuma Jadi Baju, Inilah Aplikasi Kain Batik yang Bisa Kamu Tiru

Kain batik mempunyai berbagai ukuran yang disesuaikan dengan aplikasi penggunaannya. Aplikasi bentuk kain batik beranekaragam dan juga berkembang sesuai budaya dan selera yang berkembang di masyarakat.

Bentuk pakaian jadi seperti baju kemeja, rok, terusan, setelan kemeja, dan bawahan adalah bentuk-bentuk modern yang berkembang sejak 1970-an. Sebelumnya masyarakat banyak yang memakai kain panjang, sarung, kemben, dan sebagainya. Mari kita mempelajari penggunaan kain batik dari bentuk yang tradisional hingga modern.

Baca juga:
Tak Lagi Kuno, Batik Lebih Fashionable di Kalangan Anak Muda
Ingin Anak Tampil dengan Fesyen Batik yang Mempesona? Baca Tips Ini

Kain Panjang / Jarik

meugang1
Perempuan Jawa memakai Kain Panjang (Photo: Batik Design, Pepin Van Roojen, The Pepin Press, 2001)

Kain panjang batik mempunyai ukuran yang bervariasi, namun secara umum mempunyai panjang sekitar 240–260 cm dan lebar berkisar 100–110 cm. Cara pemakaiannya adalah dililitkan pada tubuh dari dada hingga kaki.

Cara mengunci kain beraneka macam, ada yang memakai stagen, adapula yang digulung atau diikat. Beberapa kain batik panjang pesisiran biasanya mempunyai kepala/tumpal, yaitu sepertiga atau seperempat bagian dengan motif yang berbeda dari motif keseluruhan. Bagian kepala ini diposisikan di depan. Beberapa daerah mempunyai cara melipat dan mengunci kain yang khas dan berbeda satu sama lainnya. Kain panjang banyak berkembang di daerah pedalaman Yogyakarta dan Solo. Kain panjang ini biasa dipadukan dengan kebaya untuk wanita ataupun jas / beskap untuk pria.

Dodot

2
Pangeran Yogyakarta memakai Dodot 1910 (Photo: The Book of Batik, Viona Kerliguo, 2004).

Dodot adalah kain panjang dengan ukuran besar, biasanya dua kali kain panjang. Pemakaian dodot adalah dengan dilipat-lipat secara khusus hingga menampilkan kesan berjuntai dan terlihat lebar, menutupi bentuk lekuk tubuh. Dodot adalah kain khusus. Dahulu hanya boleh dipakai raja, bangsawan, ataupun penari keraton, karenanya kain dodot hanya berkembang di daerah pedalaman.

Sarung

3
Keluarga Indo Belanda memakai sarung (Photo: The Book of Batik, Viona Kerliguo, 2004).

Sarung mempunyai ukuran panjang sekitar 190 – 210 cm dan lebar 100 – 110 cm. Beda dengan kain panjang, kedua ujung panjang kain di jahit menyatu, hingga kain membentuk selongsong. Cara memakainya adalah dengan memasukkan bagin tubuh dari kaki hingga pinggang kedalam sarung, kemudian sarung dilipat menyesuaikan ukuran tubuh.

Cara mengunci kain juga beraneka ragam, ada yang dilipat, menggunakan tali, atau bisa juga dengan ikat pinggang. Sama seperti kain panjang, beberapa daerah mempunyai cara melipat dan mengunci kain yang khas. Kain sarung banyak berkembang di daerah pesisiran. Di masyarakat tionghoa, sarung biasanya dipadukan dengan kebaya encim.

Kemben dan Selendang/Gendongan

4

Kemben dan selendang mempunyai ukuran yang sama yaitu setengah dari kain panjang, ukuran panjang sekitar 250 -300 cm, dan ukuran lebar sekitar 50 – 80 cm. Cara pemakaian kedua kain tersebut berbeda. Kemben dipakai untuk menutupi dada dengan cara melilitkan di seputaran dada hingga pinggang. Sedangkan selendang biasa dipakai sebagai kain penghias dengan cara disampirkan di pundak atau sebagai gendongan.

Kain batik gendongan bisa digunakan untuk memanggul barang ataupun menggendong bayi. Salah satu kain gendongan khas adalah gendongan ala Tionghoa yang memasukkan gambar hewan mitologi simbol berbagai harapan baik untuk anak. Motif pedalaman yang biasa dipakai untuk menggendong bayi adalah parang rusak (untuk keraton), sidoasih, dan kawung.

Celana pangsi

5
Penjual Celana Pangsi ( Photo: Batik, Inger McCabe Elliott, 2004).

Celana pangsi adalah celana longgar dengan panjang lebih bawah sedikit dari lutut. Celana ini bermotif batik, dan sudah berkembang sejak akhir abad 19 di daerah pesisiran. Celana pangsi ini biasa digunakan kaum pria kala bersantai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *