Saat Motif untuk Rakyat Kecil Berlenggok di Atas Catwalk

Kain bermotif lurik lekat dengan kehidupan rakyat kecil. Kain lurik memiliki citra kesederhanaan, bahkan kadang juga dianggap pakaian orang miskin.

Namun, Edward Hutabarat, seorang desainer kenamaan asal Indonesia mengubah citra itu. Ia justru merancang busana berbahan kain lurik. Tak tanggung-tanggung, rancangannya dipamerkan di Pelataran Ramayana, Hotel Kempinski, Jakarta.

Baca juga:
Tidak Selamanya Batik Oldskull, Ikuti Tips Ini Supaya Lebih Fashionable
Uniknya Kostum Batik dari Bahan Bekas

Pameran bertajuk Tangan-Tangan Renta ini digelar sejak tanggal 23-28 Agustus 2017 lalu.

Edo, panggilan akrab Edward Hutabarat, sengaja memilih tema itu lantaran kekhawatirannya terhadap makin jarangnya perajin lurik. Saat ini perajin lurik didominasi oleh warga senja tanpa ada regenerasi yang baik. Menurutnya, tangan-tangan renta itu sudah waktunya beristirahat dan dilanjutkan oleh generasi yang lebih mudah.

Perkenalan Edo dengan kain lurik sendiri terjadi di tahun 2002 lalu. Saat itu ia diminta untuk membantu keluarga Sultan Hamengkubuwono X untuk mendesain kebaya di upacara tantingan, sebuah ritual penting dalam proses pernikahan puteri Keraton.

Foto: djarum batik foundation

Di kesempatan itu Edo memperhatikan lurik-lurik yang digunakan oleh para abdi dalem. Menurutnya, kain itu amat indah.

Setelah itu, Edo mulai gencar meneliti kain lurik langsung ke pusat-pusat pembuatan lurik di Klaten dan Yogyakarta.

Selain memamerkan kain lurik yang sudah naik kelas, dalam kesempatan itu Edo juga memperlihatkan rekaman visal saat Edo meneliti kain lurik. Tak Cuma pakaian, Edo pun membuat benda sehari-hari dengan bahan kain lurik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *