Kisah Wanita Indonesia yang Menggaungkan Filosofi Batik Nusantara di Negeri Paman Sam

Dalam beberapa tahun terakhir, Wita Salim sering kali diundang ke Washington, D.C., Amerika Serikat untuk mengajarkan tentang cara membatik kepada warga lokal, khususnya anak-anak. Tidak hanya teknik membatik, Wita pun berbagi mengenai filosofi di balik motif batik nusantara yang begitu beragam.

Ternyata, ragam warna dan motif unik yang menghiasi kain batik Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi warga lokal negeri Paman Sam. Sebut saja deretan artis papan atas seperti Jessica Alba, Heidi Klum, dan Reese Witherspoon pun pernah terlihat memakai pakaian dengan motif batik.

Baca juga:
Wanita Ini Percaya Diri Jajakan Batik di Amerika Serikat
Irwan Tirta, Jauh-Jauh ke Amerika Menjadi Legenda Batik

Tidak hanya sekadar senang mengenakan batik, namun ternyata banyak warga Amerika yang juga tertarik mempelajari teknik pembuatan batik yang menjadi warisan budaya milik Indonesia yang resmi ditetapkan oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 silam.

“Banyak sekali orang Amerika yang ingin belajar mengenai batik,” tutur penggiat budaya sekaligus pengajar batik, Wita Salim di negara bagian Maryland yang tak jauh dari Washington, D.C.

Sebagai pengajar batik, Wita juga merasa perlu untuk menceritakan mengenai arti dan filosofi di balik beragam motif batik Indonesia yang melegenda ini.

“Saya mengajarkan kepada orang Amerika, bagaimana sih di Indonesia, kenapa batik itu penting? Karena beberapa desain itu kan untuk ceremony tertentu ya, mulai dari nikah, kemudian dimiliki ibu yang sudah tua, atau mungkin perempuan yang lagi hamil. Itu yang banyak orang enggak tahu,” jelasnya.

Menurutnya, karena (orang Amerika) diajarkan filosifinya itu, makanya banyak sekali orang yang sangat tertarik, jadi bukan sekadar menggambar batik saja.

Dalam beberapa tahun terakhir, Wita banyak mendapat panggilan dari sekolah-sekolah di wilayah Washington, D.C. untuk mengajarkan tentang batik nusantara kepada anak-anak di sana. Salah satu programnya dilakukan bersama organisasi nirlaba ‘Rumah Indonesia’ yang bertujuan untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Amerika serta warga Indonesia yang ada di sana.

“Prosesnya yang menarik buat para murid, karena memakai wax (malam) kemudian pakai canting. Canting itu kan sangat tradisional sekali. Saya mengajarkannya selalu pakai canting, bukan kuas, ya,” ujar Wita.

Yang membuat mereka kagum, kata Wita, sebenarnya adalah cara pembuatannya. menurutnya, semuanya sangat antusias pada saat belajar batik.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh Wita secara pribadi sebagai pengajar batik adalah ketika mengajarkan anak-anak keturunan Indonesia di Amerika, yang mana mereka hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Indonesia.

“Untuk anak Indonesia surprisingly kadang-kadang mereka enggak tahu Indonesia di mana. Mereka tahu bapak ibunya tau darimana, namun kadang-kadang mereka enggak tahu juga. Itu salah satu challenge-nya dari kami adalah pada saat mengajarkan anak-anak, sebenarnya kami mengajak orang tua juga sekalian di saat yang bersamaan,” ucap Wita yang juga berprofesi sebagai pengajar bahasa Indonesia di Washington, D.C. ini.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat krusial dalam memperkenalkan Indonesia di rumah mulai sejak dini.

 

Sumber: voaindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *