Menikmati Cantiknya Kota Solo dengan Kereta Uap Jaladara

Seperti halnya Yogyakarta atau Bandung, Kota Solo, Jawa Tengah memiliki banyak peninggalan sejarah yang menarik. Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah Kota Solo berusaha menghidupkan kembali sisa-sisa peninggalan itu untuk menarik wisatawan.

Salah satunya yang berhasil menarik perhatian pelancong adalah kereta uap Jaladara. Kereta ini merupakan kereta uap buatan Jerman tahun 1896.

Baca juga:
Apa Beda Batik Solo dan Jogja?
Blangkon, Aksesoris Penutup Kepala khas Jawa yang Penuh Dengan Riwayat dan Filosofi

Jaladara sendiri beroperasi pertama kali di Indonesia tahun 1920 ini awalnya digunakan untuk mengangkut tebu dari pertanian di sekitar kota Solo. Selain itu, kereta uap ini juga berfungsi sebagai alat transportasi jarak pendek bagi masyarakat Solo saat itu.

Foto: sekilassolo.wordpress.com

Pada tahun 2009 Pemerintah Kota Solo menggandeng Kementerian Perhubungan untuk kembali mengoperasikan Jaladara bagi kepentingan wisata.

Para pelancong bisa menikmati keindahan Kota Solo selama 6 km dengan kereta uap ini. Tiap penumpang harus membayar tiket sebesar Rp 190.000 untuk perjalanan selama kurang lebih satu jam. Harga tiket memang terhitung mahal, sebab biaya operasionalnya pun tak murah.

Namun bukan berarti jika kita punya uang Rp 190.000 kita pasti bisa menikmati kereta uap ini. Sebab, PT Kereta Api Indonesia, sebagai operator Jaladara mensyaratkan minimal 60 penumpang untuk sekali jalan.

Jika kurang dari 60 orang, operator akan membatalkan perjalanan, kecuali mereka mau menutup biaya minimal operasional kereta uap ini. Kebijakan ini diambil karena jika kurang dari 60 orang, operator tidak bisa menutup biaya operasional Jaladara.

Jaladara adalah nama kereta yang diberikan oleh para Dewa kepada Prabu Kresna, salah satu tokoh wayang, untuk memberantas kejahatan di Bumi. Foto: sulastama.wordpress.com

Kereta uap Jaladara pun hanya beroperasi hari Sabtu dan Minggu. Hari Sabtu jalan pada pukul 16.30, sedangkan Minggu pada pukul 09.00. Keduanya berangkat dari stasiun Purwosari.

Wisatawan juga bisa menyewa Jaladara secara khusus dengan membayar ongkos sewa sebesar Rp 3.500.000.  Ongkos itu akan digunakan untuk membayar lima meter kubik kayu bakar sebagai bahan bakar kereta uap, dua orang masinis dan dua orang asisten masinis.

Sekali perjalanan Jaladara mampu mengangkut sekitar 70 penumpang yang dibagi ke dalam dua gerbong. Gerbong yang digunakan pun masih merupakan gerbong asli Jaladara sejak pertama beroperasi di tahun 1920.

Dalam perjalanannya, pelancong akan dibawa melihat landmark Kota Solo yang amat ikonik, sepertii Loji Gandrung yang menjadi rumah dinas Walikota Solo, taman raja Sriwedari, hingga Radya Pustaka yang dikenal sebagai museum tertua di Indonesia.

Selain itu, penumpang kereta uap Jaladara juga akan diajak melewati titik nol Kota Solo dan Kampung Batik Kauman.

Jaladara akan beristirahat di stasiun Sangkrah, atau yang lebih dikenal sebagai stasiun Solo Kota sebelum kembali ke stasiun Purwosari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *