Mengenal Dhurung, Lumbung Padi Unik Khas Pulau Bawean

Pulau Bawean berada sekitar 120 km sebelah utara Kota Gresik, Jawa Timur. Selain terkenal dengan wisata baharinya yang terkenal cantik, kita akan menemukan bangunan yang terlintas mirip dengan Gazebo atau pendopo. Bangunan itu di jaman dahulu kala bisa ditemukan hampir di tiap desa di Bawean.

Di daerah lain di Indonesia, bangunan itu biasa digunakan untuk bersantai atau berkumpul dengan para tetangga dan sanak saudara. Namun di Bawean, bangunan yang terletak di halaman rumah itu memiliki fungsi lain yang amat penting, yaitu sebagai lumbung yang menyimpan hasil padi. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama Dhurung.

Pulau Bawean memang tidak memiliki banyak sawah seperti halnya di pulau Jawa. Di masa kolonial Belanda, pasokan padi untuk makan penduduk Bawean didapat dari pulau Jawa.

Baca juga:
Membuat Rumah Lebih Indah dengan Cap Batik
Sintren, Tari Tradisional Beraroma Mistis

Selain itu Dhurung juga berguna untuk menyimpan padi dari sawah milik masyarakat lokal. Padi akan disimpan untuk pasokan makanan hingga musim panen berikutnya.

Dhurung memiliki tiga bagian penting, Atap, tiang atau disebut pang-pang, dan penghalang tikus atau jelepang. Tiang Dhurung biasanya dihiasi ukiran dedaunan dan pepohonan. Makin rumit ukirannya maka makin tinggi status sosial si pemilik Dhurung.

Atap Dhurung biasanya berbentuk Limasan, atap khas rumah tradisional masyarakat Jawa. Lantainya, atau disebut amben, terbentuk dari kayu-kayu yang disusun secara simetris.

Amben biasa digunakan untuk berkumpul dengan para tetangga dan keluarga. Terkadang amben malah digunakan juga sebagai pelaminan saat ada pernikahan.

Terdapat ruang sekitar setengah meter di bagian bawah amben. Fungsinya, untuk menaruh pasokan kayu bakar. Sebagian masyarakat malah menjadikan ruang bawah amben sebagai kandang ayam.

Dimana padi disimpan? Ruangan di dalam atap yang berbentuk limasan itulah yang menjadi tempat menyimpan padi dan hasil sawah lainnya.

Sayang, saat ini keberadaan Dhurung makin langka. Sebabnya, Dhurung rubuh dimakan rayap dan sebagian lagi dijual kepada para kolektor barang-barang antik.

“Biasanya dijual RP 5 hingga 10 juta kepada orang di luar pulau,” ujar salah satu warga Bawean.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *