Tarian Cikeruhan dari Bandung

Jawara terpikat oleh pesona kecantikan seorang gadis, melakukan tingkah eksentrik cenderung kocak guna beroleh perhatian. Dia menghampiri gadis dengan sikap merangkak, serta menampakkan ekspresi ternganga. Potret jawara yang sedang mabuk asmara itu tertuang dalam komposisi tari “Cikeruhan” suguhan Ikatan Alumni dan Siswa Tari SMKN 10 pada acara reguler “Sundanese Cultural Performance” di Gedung De Majestic, Jalan Braga, Kota Bandung, Kamis, 27 Juli 2017.

Penari perempuan yang merepresentasikan sosok gadis rupawan tampil duluan, memeragakan goyanan pinggul luwes, ayunan tangan lincah, serta patahan bahu bertenaga. Sesekali, dia mengibaskan selendang kuning yang terpasang di pundaknya, memunculkan efek visual artistik. Tempo gerakan tampak cepat, membentuk kemasan penampilan dinamis.

Penari laki-laki yang memerankan tokoh jawara menyusul masuk panggung, memandangi perempuan dengan tatapan berbinar-binar. Dia memamerkan keterampilan bela diri tangan kosong, maupun dengan menggenggam golok. Terkesan ingin menegaskan keperkasaan di hadapan perempuan pujaan, dia menggerak-gerakan mulut agar kumis tebalnya terangkat.

Semula, gadis mengabaikan kehadiran jawara, tetap berkonsentrasi pada tariannya. Hal itu membuat jawara tertantang, semakin menggebu untuk meraih simpati, dengan cara mempraktikkan kecakapan menari. Kendati demikian, upaya jawara masih saja gagal, tetap menerima isyarat penolakan. Terus menunjukkan sikap pantang menyerah, jawara berhasil meluluhkan hati gadis pujaanya, tergambarkan dari bagian gerakan tari serempak dengan posisi berhadapan.

Penggambaran sifat angkara murka manusia terpampang dalam serangkaian gerakan tari “Topeng Klana Priangan” dengan format penyuguhan tunggal. Karakteristik gerakan tampak tegas dengan sudut ayunan lebar, mencitrakan watak keras nan jemawa. Apalagi, Penari membubuhkan entakan pada setiap gerakannya, kian menerangkan penggambaran watak.

Komposisi tari terbagi atas dua bagian, yang memakai, dan tanpa topeng. Tempo gerakan begitu cepat, membaur dengan permainan musik pengiring yang penuh dinamika, juga berirama rapat. Nayaga memainkan musik sembari membubuhkan efek pendukung latar suasana, seperti suara teriakan, dan tiruan ketawa angkuh. Sementara itu, penata cahaya menerapkan pola pengaturan kerlap-kerlip, merepresentasikan situasi ingar-bingar.

Ikasista SMKN 10 menyuguhkan sejumlah tarian lain, “Gawil”, “Sonteng”, serta “Tanghi Babangen”. Selain tarian, terdapat pula penampilan solo juru kawih yang menyanyikan lagu Sunda, dan permainan angklung interaktif bersama penonton.

 

Sumber: Pikiran-rakyat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *