Mudik, Tradisi Para Perantau yang Tak Pernah Luntur

Setiap hari raya lebaran datang, masyarakat Indonesia akan berbondong-bondong pulang ke tempat kelahiran mereka. Kegiatan kembali ke kampung halaman, atau biasa disebut mudik, telah menjadi sebuah kebiasaan yang wajib dilakukan saat jelang lebaran atau idul fitri tiba. Dengan segala keunikannya, mudik menarik untuk ditelusuri.

Tujuan mudik atau kembali ke kampung halaman dari perantauan adalah berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara. Mereka pulang ke tanah kelahiran untuk berkumpul dan meminta maaf kepada orang tua serta sanak saudara.

Baca juga:
Ternyata Ada Tradisi Tawuran Nasi di Rembang
Seba Baduy, Tradisi Berjalan Kaki Warga Kanekes Temui Kepala Pemerintah Daerah

Dengan kegiatan berkumpul dan saling meminta maaf ini maka pilihan kembali ke kampung halaman dengan mudik jelang lebaran menjadi saat yang tepat dan menyenangkan untuk dijalani. Tak ayal bila kemudian saat musim mudik, statsiun, terminal, bandara dan pelabuhan akan dipenuhi banyak pemudik. Selain transportasi umum, kendaraan pribadi baik itu roda dua atau roda empat akan terlihat memenuhi jalanan.

Kata mudk sediri ditelusuri berasal dari kata “udik” yang berarti selatan/hulu. Sedangkan lawan katanya yakni “milir” yang artinya utara/hilir. Di Jakarta atau Batavia terletak di bagian utara pulau Jawa. Jadi, saat mereka pulang, mereka akan mengarah ke Selatan, atau ke “udik”.

Dari sinilah kemudian kata udik menjadi mudik untuk mewakili kembali pulangnya mereka dari tempat usaha (perantauan) menuju rumah (kampung halaman).

Kisah lain mengenai mudik juga berasal dari terjadinya kegiatan pulang-pergi atau hilir-mudik orang-orang dari Kota Batavia yang mengambil hasil bumi dari wilayah Selatan Batavia. Beberapa wilayah di Selatan Batavia seperti Kebon Nanas, Kebon Kopi, Kemanggisan, dan Kebon jeruk dikenal sebagai pemaasok hasil bumi untuk masyarakat Batavia melalui sungai. Kegiatan inilah yang melahirkan istilah mudik dan milir.

Jakarta atau Batavia sebagai tempat mencari nafkah bagi orang dari luar Jakarta memang sudah mengenal istilah mudik dari abad pertengahan. Karena mereka telah mengenal istilah betawi udik dan ilir, maka saat pulang ke kampung halaman jelang lebaran mereka mengatakannya sebagai mudik atau menuju udik (pulang kampung).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *