Berkunjung ke Sawahlunto, Kota Pertambangan Batu Bara Tertua di Asia Tenggara

Bagi Anda pecinta wisata sejarah, maka berkunjung ke Kota Sawahlunto di Provinsi Sumatera Barat akan menjadi pilihan yang tepat dan istimewa. Mengapa? Sebab Sawahlunto menyajikan banyak situs sejarah yang memiliki kisah yang panjang dan unik.

Kota yang dulu merupakan pusat pertambangan batu bara di Indonesia ini saat ini memang telah ditetapkan menjadi cagar budaya dengan tema “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya”. Bahkan sebagai kota tua, Sawahlunto disebut-sebut sebagai salah satu kota tua terbaik di Indonesia.

Baca juga:
Menikmati Suguhan 3 Batu Unik di Tanah Batak
Wall Koto Gadang, Menikmati Tembok Besar China ala Indonesia di Bukittinggi

Di kota yang berdiri tahun 1888 tersebut, Anda juga bisa mendatangi beberapa situs bersejarah peninggalan kolonial Belanda. Wisata sejarah pertama yang bisa Anda datangi adalah Lubang Tambang Mbah Soero. Lubang Tambang Mbah Suro merupakan tempat bekas pertambangan batu bara berupa terowongan yang memiliki panjang hingga puluhan kilometer. Namun untuk kegiatan pariwisata, pengunjung hanya bisa berjalan sejauh 186 meter.

Pintu masuk Lorong Mbah Surip. Foto: andyyahya.com

Setelah puas menikmati suasana tambang batu bara kuno, Anda bisa bergeser ke Museum Kereta Api Sawahlunto. Museum yang dulunya adalah sebuah stasiun kereta api ini merupakan saksi bisu munculnya moda transportasi kereta di Sumatera Barat.

Adanya tambang batu bara di Sawahlunto, membuat Belanda membangun jalur rel kereta api Sawahlunto hingga Pelabuhan Teluk Bayur untuk mengangkut hasil  tambang. Dengan jarak 151,5 km, pemberangkatan kereta api uap pengangkut batu bara saat itu dimulai dari Sawahlunto melalui Danau Singkarak dan Lembah Anai hingga Teluk Bayur yang menempuh waktu perjalanan selama 10 jam.

Salah satu bagian Museum Kereta Api. Foto: dwiaryanti.com

Selanjutnya, situs sejarah yang bisa Anda kunjungi di Sawahlunto adalah Museum Goedang Ransoem. Museum Goedang Ransoem adalah tempat bekas dapur umum dan juga rumah sakit bagi  para pekerja tambang batu bara. Dengan banyaknya pekerja batu bara, atau yang dikenal orang-orang rantai di Sawahlunto, Belanda tentu membutuhkan banyak persediaan makanan dalam jumlah besar.

Setidaknya 3.900 kilogram beras setiap harinya dimasak dari tempat ini. Selain tempat memasak (dapur umum), Museum Goedang Ransoem dulu juga digunakan untuk merawat orang-orang rantai yang kadang disiksa oleh Belanda atau karena sakit.

Selain Lubang Tambang Mbah Suro, Museum Kereta Api Sawahlunto dan Museum Goedang Ransoem, di Sawahlunto, Anda juga bisa mendatangi situs bersejarah lainnya seperti Hotel Ombilin, Gedung Pusat Kebudayaan, Taman Segitiga, Kantor Bukit Asam, dan Silo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *