Menikmati Suasana Lebaran Khas Indonesia di Hotel-Hotel Solo

Bukan hanya menyuguhkan berbagai menu makanan istimewa, sejumlah hotel berbintang di Kota Solo juga menghadirkan dekorasi dan ikon unik untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Salah satunya di The Sunan Hotel Solo. Suasana kental khas Ramadan begitu terasa ketika menginjak lobby lounge. Sebuah miniatur masjid berbahan baku kue kuping gajah siap menyambut tamu hotel.

General Manager The Sunan Hotel Solo, Retno Wulandari mengatakan, miniatur berdiameter 170 cm dan tinggi 180 cm itu menghabiskan sebanyak 6.000 keping kue kuping gajah. Adapun proses pembuatannya memakan waktu 4 hari dengan disusun menggunakan lem berbahan tepung terigu, tanmiem, dan telur.

“Selain miniatur masjid dari kue kuping gajah, kita juga menghadirkan spot selfie replika unta di padang pasir dan bedug ramadan. Kreasi unik ini dipamerkan hingga tibanya hari raya Idul Fitri. Sehingga para tamu yang menginap maupun beraktivitas di hotel The Sunan bisa mengabadikan kenangannya,” kata Retno kemarin.

Kemeriahan serupa juga ada di The Alana Hotel & Convention Center Solo yang menghadirkan miniatur masjid berbahan baku lumernya cokelat. Selain itu, dengan teknik airbrush, atap kue miniatur masjid itu juga dihiasi motif batik jenis truntum dan parang.

“Miniatur masjid batik cokelat ini berukuran 20 meter persegi. Menghabiskan kurang lebih 68 kilogram cokelat, glitter food, pewarna makanan. Sedangkan pembuatannya memakan waktu sekitar dua minggu, mulai dari pemasangan rangka hingga proses pelapisan cokelat dan penyusunan 222 buah meringue untuk kubahnya,” ujar Executive Chef The Alana Hotel & Convention Center- Solo, Pian Gunawan.

Mengenai kedua motif batik yang dipilih untuk menghias atap miniatur masjid, kata dia, merupakan refleksi dari The Alana Hotel & Convention Center yang hampir 2 tahun berkiprah di Kota Solo. Untuk motif truntum melambangkan makna cinta kasih yang tulus, murni, dan tengah bersemi.

Sedangkan motif parang, sambung Pian, memiliki makna petuah agar tidak pernah menyerah. “Kebetulan kedua motif itu adalah motif batik asli Solo yang dibuat langsung oleh Kanjeng Ratu Kencana, permaisuri Sultan Pakubuwana III dari Surakarta Hadiningrat,” sambungnya.

 

Sumber: merdeka.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *