Menelisik Budaya Jambi Lewat Batik

Sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, batik tidak hanya berkembang di pulau Jawa saja, tetapi hampir di seluruh belahan Nusantara. Jambi misalnya. Meski masih terpengaruh gaya batik Jawa, namun perkembangan kain bermotif itu di provinsi yang kini dipimpin Zumi Zola memiliki sejarah panjang. Lebih dari 130 tahun lamanya.

Menurut Nur Azizah, staf Balai Budaya Rakyat Selaras Pinang Masak Jambi, batik masuk ke Jambi pada tahun 1870an. Awalnya, batik hanya digunakan untuk kalangan bangsawan saja. Namun, seiring berjalannya waktu, batik juga menjadi pakaian masyarakat umum.

Yang membedakan batik Jambi dengan batik dari daerah di Jawa adalah warna dan motif. Untuk pewarnaan, kebanyakan menggunakan bahan alami yang ada di sana. Seperti kayu sepang yang mampu menghasilkan warna kuning kemerahan. Atau kayu nilo yang bisa memberikan efek warna biru. ”Selain dari kayu, juga dari dedaunan,” kata dia.

Untuk motif sendiri, batik Jambi mayoritas memiliki sentuhan yang sederhana dan tidak terangkai alias berdiri sendiri-sendiri. Pemberian nama pada motif batik Jambi disesuaikan menurut sumber inspirasi. Di antaranya batik angso duo yang terinspirasi dari logo provinsi berupa sepasang angsa. Ada lagi motif batik durian pecah, potong intan, kapal sanggat, dan antalas. ”Minimal pengerjaan satu kain batik adalah 4 minggu,” jelas Nur.

Masing-masing motif memiliki makna tersendiri. Motif durian pecah misalnya yang menggambarkan dua bagian kulit durian yang terbelah, tapi masih bertautan di pangkal tangkainya. Itu menggambarkan belahan pertama bermakna pondasi iman dan takwa. Belahan lainnya adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Jadi, intinya adalah segala pekerjaan dan pengetahuan harus dilandasi oleh iman dan takwa. Sehingga mampu memberikan hasil yang baik,” jelas perempuan berhijab itu.

 

Sumber: JPNN.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *