Ternyata Ada Tradisi Tawuran Nasi di Rembang

Bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, tradisi ‘sedekah bumi’ memang bukan hal yang asing. Tradisi ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa terhadap hasil bumi yang telah didapat.

Umumnya ‘sedekah bumi’ dilakukan dengan makan bersama-sama di sebuah tempat terbuka. Namun di Desa Palamsari, Rembang, Jawa Tengah ini sedekah bumi dilakukan dengan cara yang agak berbeda dan unik. Masyarakat Rembang menyebutnya dengan ‘Tawuran’ atau ‘Tawur Nasi’.

Baca juga:
Lasem Bukanlah Rembang, Rembang Bukanlah Lasem
Dengo-Dengo, Tradisi Unik Saat Sahur di Sulawesi Tengah

Tradisi ‘Tawur Nasi’ di Desa Palamsari, Kecamatan Sumber, Rembang memang unik. Sebab, nasi yang biasanya dimakan atau dinikmati bersama-sama warga desa, dibuat sebagai alat untuk saling menyerang satu sama lainnya.

Meski namanya terkesan penuh kekerasan, namun tidak ada perasaan dendam dan benci di antara peserta ‘Tawur Nasi’. Justru tradisi yang dilakukan para pemuda desa ini berjalan dengan suka cita dan keceriaan. Mereka percaya tradisi ‘Tawuran Nasi’ ini akan mampu menghilangkan kesulitan dan kesusahan yang bisa menimpa desa.

Sebaliknya, mereka percaya jika tradisi ‘Tawur Nasi’ tidak dilaksanakan maka bisa menjadi ancaman bagi desa. Ini sempat terjadi di tahun 1995 dimana desa dilanda gagal panen karena tidak melakukan tradisi Tawuran Nasi.

Di sebuah tempat bernama punden sumber Desa Pelemsari yang dikelilingi areal sawah yang hampir kering, ritual ‘Tawuran Nasi’ digelar. Mereka mengawali acara dengan doa. Selain nasi satu bakul yang ditumpahkan di atas deklit, kaum perempuan juga membawa dumbeg, sebungkus ketan dan tape yang dimasukan ke dalam karung. Semua bahan makanan ini dikumpulkan di dekat punden.

Para pemuda yang sudah menunggu di sekitar punden sudah bersiap-siap dengan aksinya setelah doa dibacakan. Setelah doa dibacakan para pemuda  langsung menyerbu nasi yang ada dan melemparkannya pada pemuda lainnya.

Dari sini terjadilah aksi ‘Tawuran Nasi’ di antara para pemuda dengan riang tanpa ada yang marah dan dendam. Menariknya lagi, meski terlihat mubadzir, namun nasi yang jatuh ke tanah dan terbuang malah dianggap sebagai berkah.

Nasi yang digunakan untuk perang itu akan dijadikan makanan ternak. Mereka percaya jika hewan ternak ini diberi makan nasi hasil ‘Tawur Nasi’, hasil ternak akan melimpah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *