Ternyata Budaya Batik Sampai Karibia

Di sisi belahan dunia yang lain, yaitu di kawasan Karibia, cerita sederhana ini bermula. Kawasan ini terletak di sebelah tenggara Amerika Serikat, dikelilingi Lautan Atlantik dan terdiri dari beberapa negara kecil, seperti Kuba, Jamaika, Haiti, Puerto Rico, Dominika, Antigua dan Barbuda, St. Kitts and Nevis serta beberapa negara kecil lainnya. Adalah Duta Besar Priyo Iswanto yang telah menguak tabir adanya warisan batik di kawasan ini, yaitu di Negara Federasi St. Kitts and Nevis.

Selain dipercaya oleh Pemerintah RI untuk menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Kolombia di Bogota, Priyo juga diberi tugas rangkapan sebagai Duta Besar untuk St. Kitts and Nevis.

Memanfaatkan kesempatan saat menyerahkan Surat-surat Kepercayaan kepada Gubernur Jenderal St. Kitts dan Nevis (SKN), Y.M. Sir Samuel Weymouth Tapley Seaton, di Government House, Basseterre, St. Kitts, pada 23 Mei 2017 lalu, Dubes Priyo berinisiatif mengadakan kegiatan “Batik Workshop” untuk lebih memperkenalkan batik sebagai warisan dunia (world heritage) asli Indonesia kepada masyarakat St. Kitts and Nevis.

Niatnya sederhana, yaitu untuk lebih memperkenalkan batik, yang memang sudah diakui UNESCO sebagai intangible world heritage sejak 2009.

Workshop diadakan dua hari, pada 24-25 Mei 2017 di St. Kitts (pulau utara) dan Nevis (pulau selatan), yang ternyata mendapat perhatian besar, tidak hanya dari kalangan pemerintah tetapi juga masyarakat. Para peserta yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat sangat antusias mengikuti kegiatan, yang dipandu oleh Venny Alamsyah dari Batik House.

Kegiatan workshop diisi dengan presentasi mengenai sejarah dan cara pembuatan batik, dilanjutkan dengan peragaan pembuatan batik dengan melibatkan langsung semua peserta.

St. Kitts and Nevis adalah negara kecil yang wilayahnya meliputi dua pulau kecil dengan penduduk hanya sekitar 52.000 orang. Ia merupakan negara federasi di bawah protektorat Inggeris yang dikepalai oleh seorang Gubernur Jenderal (mewakili Ratu Inggris).

Meskipun kecil, tentu saja tidak bisa diabaikan karena St. Kitts and Nevis adalah sebuah negara berdaulat yang juga mempunyai suara di PBB, sesuai dengan prinsip “one state, one vote”. Dukungan suara dari negara-negara kecil ikut menentukan bagi kepentingan RI, utamanya saat pencalonan di organisasi/lembaga internasional, termasuk di DK-PBB.

Indonesia telah membuka hubungan diplomatik dengan negara ini pada tanggal 30 Januari 2014 lalu, dan Priyo Iswanto adalah duta besar Indonesia pertama (non-resident) untuk St. Kitts and Nevis.

Untuk melaksanakan suatu kegiatan promosi di negara akreditasi, kita memerlukan pemahaman mengenai potensi dan karakter masyarakat negara bersangkutan, sehingga sebuah kegiatan tidak hanya sekedar terlaksana dan memenuhi aturan penggunaan anggaran. Demikian halnya dengan kegiatan “Batik Workshop” ini.

Tim KBRI mendapatkan informasi bahwa batik berpotensi untuk disukai oleh masyarakat karena masyarakat St. Kitts and Nevis berdomisili di daerah pantai. Motif atau corak pantai dengan warna mencolok akan menjadi faktor dominan yang dapat memancing selera masyarakat.

Selain itu, juga diketahui bahwa batik bukanlah sesutau yang baru bagi masyarakat setempat. Mereka sudah tidak asing lagi dengan batik sehingga ketika kami menyampaikan hal-hal terkait ‘batik’, masyarakat pun tahu apa yang dimaksudkan sebenarnya. Hanya saja, mereka belum mengetahui bahwa batik berasal dari Indonesia.

Masyarakat St. Kitts and Nevis sudah mengenal “batik” karena mereka memang telah memiliki batik lokal. Di St. Kitts and Nevis terdapat sebuah toko yang memproduksi batik, bernama “Caribelle Batik” yang sangat terkenal karena merupakan satu-satunya pembuat dan penjual batik di negara terebut. Tidak ada yang lain!

Meskipun demikian, batik masih belum membudaya dan menarik minat sebagai pakaian keseharian masyarakat. Para pengguna batik masih berasal dari kalangan terbatas, kelas tertentu yang tergolong mampu. Terlepas dari semua itu, sungguh menarik bagi kami untuk mengetahui lebih jauh seperti apakah jenis batik yang dimiliki oleh negara kecil ini.

Pengetahuan mengenai batik lokal tentu akan sangat bermanfaat dalam menentukan langkah sosialisasi batik selanjutnya. Bila pemasaran batik ini berhasil di St. Kitts and Nevis, kami berharap akan dapat menyebar ke seluruh Karibia, sehingga batik betul-betul akan lebih mendunia.

Sehari sebelum kegiatan workshop dimulai, Dubes Priyo didampingi beberapa staf sengaja menyempatkan diri untuk mengunjungi galeri, yang letaknya ternyata agak jauh dari pusat kota Basserette (ibu kota).

Dari sinilah kejutan demi kejutan kemudian dimulai. Pertama, menjelang tiba di lokasi, ternyata kami harus melalui sebuah kawasan yang luas, rindang, dan sepi. Kawasan ini kentara sangat terawat, tidak bedanya dengan cagar alam ataupun taman kota yang asri dan indah.

Dari beberapa ‘prasasti’ yang kami jumpai selama perjalanan, didapatkan informasi bahwa kawasan tersebut telah dimiliki oleh seorang terpandang keturunan Inggris bernama Edward sejak 1626. Hingga kini masih terawat baik dan menjadi properti pemilik “Caribelle Batik”.

Di tengah kawasan hijau dan asri tersebut, terletak sebuah bangunan/rumah artistik yang disebut sebagai Galeri, yang diberi nama “Wingfield Estate St. Kitts” (berdiri sejak 1625). Di ruang galeri itulah produksi pengolahan dan penjualan batik lokal dilaksanakan. Kami pun tiba di lokasi, kendaraan kami parkir di halaman yang cukup luas dan bersih.

Kami sempat berhitung sebentar dan sampai pada kesimpulan bahwa tidak mungkin si pemilik hanya mengandalkan bisnis batik semata untuk merawat taman semacam cagar alam yang demikian luas. Tapi itu bukanlah tujuan kami untuk menghitung-hitung rejeki orang.

Kami lalu masuk ke galeri batik tersebut dan bertemu dengan pengelola disana, seorang wanita setengah baya. Dengan dipimpin Dubes Priyo yang sengaja saat itu berpakaian batik, kami memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan.

Dan terjadilah suasana yang menurut kami di luar dugaan. Mereka tidak menganggap kami sebagai ‘competitor’ bahkan merasa senang dan mendapat kehormatan. Si pengelola kemudian menerangkan sekilas mengenai keberadaan batik tersebut.

Dijelaskannya bahwa batik lokal tersebut seluruh bahannya berasal dari Indonesia. Industri batik lokal tersebut dimulai pada 1974 dengan label “Carribelle Batik”. Sambil memegang “canting”, pembuat batik saat itu menerangkan kepada kami bagaimana proses pembuatan batik.

Tentu saja tidak berbeda dengan cara pembuatan batik di Indonesia. Yang berbeda adalah bahwa mereka terkesan tidak “tekun” dalam menggunakan cantingnya, sehingga untuk obyek yang besar digunakan kuas.

Selain itu, motifnya juga lebih dominan pada nuansa pantai, dengan latar belakang pohon kelapa, ombak air laut dan suasana pantai umumnya.

Ketika KBRI melaksanakan workshop di hari berikutnya, lengkap dengan peragaan pembuatan batik oleh para peserta, antusiasme peserta sangat besar. Menteri Luar Negeri HE. Mark Brantley yang juga hadir pada kesempatan tersebut, bahkan tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Berkali-kali menyampaikan terima kasih atas kesediaan KBRI menyelenggarakan pameran pembuatan batik dan juga mengakui bahwa warganya semakin terbuka pengetahuan dan pemahaman mengenai batik.

Dari kegiatan yang sangat singkat di atas, kami mendapatkan catatan yang sangat berharga. Promosi batik yang semula untuk memperkenalkan, namun justru mendapatkan hasil lebih jauh lagi, yaitu telah menguak tabir bahwa di Karibia telah terdapat warisan batik yang belum banyak diketahui khalayak.

Sungguh suatu kesempatan berharga bila para pemangku kepentingan di bidang batik dapat memanfaatkan peluang ini. Batik telah ada dan dikenal di Karibia, khususnya di St. Kitts and Nevis, namun masih menjadi barang elit. Batik berpotensi untuk dikembangkan di bidang industri komersial karena memiliki kecocokan dengan daerah pantai. Semoga!

 

Penulis: Achmad Djatmiko

Sumber: Kumparan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *