Kain Ma’a dan Sarita Ternyata Nenek Moyang Batik Toraja

Tana Toraja, sebuah Kabupaten terletak di Sulawesi Selatan dikenal memiliki beragam adat budaya yang tidak kalah menarik dari kota-kota lainnya. Kain tenun merupakan bagian penting dalam kehidupan suku Toraja. Makna yang tersirat di dalam motif dan coraknya amat dalam sehingga memiliki kedudukan tinggi dalam kehidupan budaya Toraja.

Kain tenun Toraja dibuat secara manual dengan proses yang sangat rumit dan membutuhkan waktu cukup lama karena memberi pola dan membentuk motif dilakukan dengan cara membatik. Membuat kain ini membutuhkan kejelian dan ketelitian untuk menghasilkan motif-motif yang indah, sehingga kain tenun Toraja bernilai mahal.

Menurut peneliti Batik, William Kwan Hwie Liong, ternyata selain terkenal dengan kain tenunnya, Toraja juga memiliki batik. William sendiri saat ini dipercaya menjadi koordinator program Sentra Kreatif Rakyat (SKR) nasional yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

William mencari tahu asal mula batik Toraja dan ia menemukan kain Sarita yang menggunakan teknik batik. Pada kenyataannya, kain ini sudah tidak dibuat oleh keturunan masyarakat Toraja sejak 1880, sehingga batik asli Toraja sudah punah sejak 1880.

Kain Ma’a dan Sarita adalah dua jenis kain yang dipakai menjadi pelengkap di berbagai upacara adat dan kegiatan lainnya di Tana Toraja. Kain Ma’a dianggap kain sakral karena kain ini biasa dipakai para pemuka agama dan pemangku adat dalam upacara adat maupun kegiatan kebudayaan. Dengan corak kerbau berbaris yang dikelilingi motif yang berbentuk salib, Sarita biasa digunakan untuk membungkus jenazah dalam upacara kematian.

Keunikan itulah yang membuat kain Ma’a Toraja ingin kembali dilestarikan. Corak kain Ma’a juga disebut-sebut mirip dengan ragam hias kain Suku Ma’a yang berada di Vietnam Selatan.

Sementara kain Sarita yang disebut sebagai Batik asli Toraja memiliki ragam motif dan hiasan yang dipercaya memiliki kemampuan untuk mendatangkan berkah. Sarita lebih berfungsi sebagai hiasan, seperti dijadikan umbul-umbul atau hiasan bagi penari. Sarita juga digunakan sebagai hiasan pada Tongkonan, hiasan pada peti mati dan dipakai dalam melaksanakan Rambu Solo maupun acara adat lainnya.

Dilihat dari latar belakang sejarahnya, konon kain Sarita dianggap sebagai batik pertama di Indonesia. Batik Toraja memiliki perbedaan dengan batik yang ada di Jawa.

Perbedaan ini terletak pada corak, motif, dan pewarna yang menggunakan malam lebah dan kadang-kadang mereka membuatnya dari bubur beras,seperti halnya pembuatan kain Simbut di Baduy.

 

Penulis : Atung Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *