Badawang yang Tergerus Zaman

Derasnya modernisasi saat ini tanpa disadari telah mengikis lapisan budaya tradisional di Indonesia, khususnya kesenian tradisional di desa-desa. Tidak sedikit anak muda yang sudah lupa, bahkan tidak mengenal seni tradisional yang dulu pernah hadir mewarnai keragaman budaya di tanah air. Salah satunya terjadi pada kesenian Badawang dari Bandung Jawa Barat.

Seni budaya Badawang dikenal dengan sebutan Memeniran diambil dari bahasa Belanda, yaitu ‘meneer’ yang artinya ‘tuan’. Mereka memberi nama demikian karena bentuk Badawang yang besar dan tinggi seperti orang barat atau orang Belanda.

Badawang merupakan jenis kesenian yang erat hubungannya dengan kepercayaan asli di Indonesia yang di dalamnya mengandung lambang seni, bentuk seni, dan pengalaman seni yang bersifat mistis.

Baca juga:
Merasakan Budaya Belanda di Bandung
Dugderan, Tradisi Sambut Bulan Ramadhan di Semarang yang Unik dan Menarik

Hal ini terlihat dari bentuk Badawang yang merupakan gambaran tradisi totemistik masyarakat agama asli Indonesia. Dalam perkembangannya, Badawang mengalami perubahan yang menampilkan kelucuan sehingga lebih menghibur penontonnya.

Badawang menjadi salah satu ikon tradisi masa lalu di masyarakat Sunda. Badawang juga akrab di kalangan anak-anak yang selalu mengejar dan menakut-nakutinya di setiap pagelaran.

Rancaekek Wetan, salah satu kecamatan di Bandung merupakan tempat tumbuh  dan bertahan hidup Badawang, meskipun tidak  sepopuler kesenian lainnya dari tataran Sunda. Tidak dipungkiri bila ada yang mengatakan bahwa kesenian Badawang  kalah pamornya dari ondel-ondel dari Jakarta.

Sekilas bentuk keduanya mirip. Bedanya, Badawang diambil dari profil tokoh pewayangan seperti Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng. Kadang Badawang juga mengambil tokoh-tokoh bangsawan, baik tokoh asing maupun pejuang tempo dulu. Semua tokoh yang ada di Badawang ini berbentuk raksasa yang tingginya mencapai 2 meter.

Khusus di Kabupaten Bandung, Badawang diiringi musik menggunakan peralatan musik yang mudah dibawa kemana-mana. Maklum saja, perjalanan yang ditempuh tiap pertunjukan terbilang jauh.

Alat-alat musik yang sering mengiringi Badawang antara lain kesdang, goong, bedug, terompet, dog-dog, dan alat musik tradisional lainnya.

Seperti halnya ondel-ondel Betawi di Jakarta, Badawang masih ditampilkan di Bandung dalam berbagai acara seperti hiburan bagi anak-anak dalam perayaan khitanan yang sering pula dilengkapi dengan pertunjukan seni lain seperti kuda renggong  dan kuda lumping.
Penulis : Atung Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *