Mengenal Lebih Dekat Batik Indigo

Apa yang kamu pikirkan tentang indigo ketika pertama kali mendengar kata tersebut? Indigo lekat dengan kemampuan seseorang untuk melihat roh halus. Namun bagaimana jika indigo itu merupakan sebuah batik yang sudah menjadi karya seni bangsa Indonesia?

Indigo sendiri adalah warna yang tak pernah lepas dari Batik. Warna ini kerap digunakan dalam kain batik. Batik Indigo sendiri berasal dari Yogyakarta dan saat ini mulai populer di kalangan masyarakat. Bahkan, batik indigo juga mulai dikenal di luar Indonesia.

Indigo merupakan warna alami yang dihasilkan dari daun Tarum (Indigofera tinctoria). Penggunaan daun tarum sebagai pewarna dilakukan dengan cara merendam daun-daun tersebut ke dalam air hingga berubah menjadi pasta berwarna kebiruan.

Batik Indigo sendiri berasal dari masa kolonialisme. Kala itu VOC menggunakan tanaman tarum sebagai warna dasar batik. Saat itu, tarum seakah-akan menjadi ’emas berwarna biru’. Bahan yang amat mahal dan mewah.

Tak kurang 500 ribu kilogram pasta pewarna tarum per tahun pernah dibawa ke Belanda menggunakan kapal laut. Hal ini membuat tarum menjadi salah satu tanaman wajib dalam agenda tanam paksa. Sampai-sampai orang Belanda menyebut warna indigo sebagai ‘Keringat Biru Orang Jawa’.

Sayangnya, pada tahun 1897 kemewahan tarum sebagai bahan pewarna batik berakhir. Sebab, sebuah perusahaan asal Jerman, Badische Anilin Soda Fabric, membuat produk pewarna kimia sintetik untuk warna Indigo yang memang lebih praktis digunakan.

Saat ini batik Indigo perlahan mulai bangkit karena adanya fashion ramah lingkungan dan kerajinan berbasis teknik resist dyeing. Kepopuleran tersebut secara tak langsung membangkitkan Batik Indigo yang sempat mati karena kurangnya peminat.

Ketua Yayasan Batik Indonesia, Nita Kenzo mengatakan Batik Indigo yang menghasilkan warna biru alami sangatlah indah. Saat ini Batik Indigo banyak digunakan model busana modern baik pria maupun wanita.

“Saat ini di dunia international, sudah ada anjuran untuk tidak lagi menggunakan pewarna yang bersifat sintetis, karena bisa merusak lingkungan, sehingga produk ramah lingkungan pun makin diminati. Inilah kesempatan Indonesia untuk mengenalkan batik Indigo,” kata dia, seperti dikutip Suara.com.

Penulis : Atung Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *