Seba Baduy, Tradisi Berjalan Kaki Warga Kanekes Temui Kepala Pemerintah Daerah

Suku Baduy atau orang Kanekes di Banten memang menyimpan banyak budaya leluhur yang masih lestari. Salah satu kegiatan atau adat istiadat dari leluhur yang masih dilestarikan dan dilaksanakan adalah seba baduy.

Seba baduy yang dilangsungkan setiap satu tahun sekali ini berwujud penyerahan hasil tani bumi pada pemerintahan daerah setempat sebagai rasa syukur atas hasil panen.

Kegiatan seba dengan membawa hasil bumi dilakukan dengan berjalan kaki dari rumah menuju pendopo Kabupaten Lebak. Jarak dari desa Baduy ke pendopo kabupaten sejauh 80 km.

Memang tidak semua orang Kanekes berjalan kaki. Sebab warga Baduy Luar yang tidak terlalu terikat dengan peraturan desa pergi ke pendopo kabupaten Lebak dengan naik kendaraan.

Dalam tradisi seba, warga Baduy Dalam yang berciri pakaian serba putih-putih ini akan berpedoman pada prinsip dari leluhur yang berbunyi “Lojor henteu beunang dipotong, pendek henteu beunang disambung“. Sederhananya dapat diartikan, “panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung.”

Maka dari itu jarak yang jauh saat seba menuju pendopo Kabupaten Lebak akan tetap ditempuh oleh para Baduy Dalam dengan berjalan kaki.

Tradisi seba baduy sudah ada dan dilakukan orang Kanekes sejak masa kesultanan Banten. Ketika itu para leluhur Baduy melakukan seba dalam wujud upeti pada kerajaan.

Tradisi seba dilakukan orang Kanekes tanpa paksaan dengan dipimpin oleh pemimpin masing-masing, yaitu jaro sebagai pemimpin Baduy Luar dan Puun sebagai pemimpin Baduy Dalam.

Sebelum tradisi seba dilakukan, bisanya orang kanekes akan melakukan puasa kawalu selama tiga bulan. Saat puasa ini berlangsung maka orang luar dilarang masuk wilayah Baduy Dalam, yaitu Cikeusik, Cikartawana dan Cibeo.

Selain sebagai rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, tradisi seba yang dilakukan orang Kanekes ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan pemerintah dan juga membawa pesan keadilan serta kelestarian lingkungan untuk pemerintah.

Tradisi yang menarik banyak wisatawan ini, harus terus dilakukan untuk menghindari kualat dan karma dari leluhur bila tak menjalankannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *