Teknik Batik Garam Ide Kreatif Terbaru Iwan Tirta Private Collection

Garam selama ini dikenal masyarakat sebagai penambah cita rasa masakan agar tak terasa hambar. Namun di tangan Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection, Era Soekamto, garam ternyata bisa menjadi alat bantu utama dalam pembuatan batik.

Teknik garam merupakan salah satu teknik pembuatan batik yang diwariskan mendiang maestro batik Iwan Tirta dan sudah memiliki 13 ribu motif terdokumentasi. Khusus untuk koleksi terbaru Iwan Tirta Private Collection yang bertajuk Condrosengkolo ini, ia mencoba mengeksplorasi teknik garam dalam pembuatan batik.

Menurut Era, teknik garam merupakan salah satu teknik membantik yang pernah Iwan Tirta kembangkan semasa hidupnya. Namun baru kali ini, teknik garam digunakan dalam membuat sebuah koleksi busana. Garam digunakan untuk menciptakan warna tertentu.

Baca juga:
Iwan Tirta, Desainer dan Maestro Batik Ternama Indonesia yang Mengahrumkan Nama Bangsa
Irwan Tirta, Jauh-Jauh ke Amerika Menjadi Legenda Batik

Garam yang digunakan dalam teknik ini yakni garam laut berbentuk bongkahan besar. Garam dipakai karena bisa membentuk jenis bahan kimia tertentu saat proses pewarnaan batik. Reaksi ini juga bisa menghasilkan warna yang tak bisa terduga dan bisa memberikan hasil warna yang lebih unik.

“Reaksi tersebut menghasilkan warna yang tak terduga. Seolah batik adalah buatan Tuhan yang Maha Kuasa,” kata Era, seperti dikutip wolipop.

Di samping menggunakan teknik garam, Era juga mengaplikasikan teknik ombre atau teknik gradasi. Teknik ombre tidak merusak warna terang bulan batik. Biasanya teknik ombre digunakan pada kosongan atau bledak di tengah motif batik, sehingga terjadi gradasi warna yang sangat indah.

Teknik garam dan ombre ini merupakan dua teknik yang sedang digali karena mendiang Iwan Tirta memiliki 13 ribu motif serta ratusan teknik batik yang terdokumentasi dalam arsip Iwan Tirta. Penggunaan teknik garam dan ombre dalam Condorsengkolo merupakan upaya pelestarian untuk memberi unsur baru yang bisa menyegarkan dalam setiap koleksi Iwan Tirta Private Collection.

“Bagaimanapun juga kami sebagai sebuah fashion house perlu refreshment agar klien tidak bosan walau terkadang ada juga klien yang protes karena merasa motif atau teknik tersebut kurang mencerminkan karakter Iwan Tirta,” ujar Era.

Pada fashion show ini terdapat 77 looks untuk pria dan wanita di koleksi Condrosengkolo yang menceritakan keselarasan manusia dngan alam semesta. Condrosengkolo sendiri merupakan penghitungan waktu jawa yang berbasis perputaran bulan.

Waktu yang dipersiapkan untuk menggelar Condrosengkolo tidaklah dalam waktu singkat, setidaknya memakan waktu 2,5 tahun. Persiapan dimulai dari riset tentang filosofi Condrosengkolo itu, pengembangan motif dan teknik sampai proses produksinya.

 

Penulis : Atung Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *