Canting Hijau, Lestarikan Batik Sekaligus Selamatkan Alam

Konsep pakaian yang ramah lingkungan, atau istilahnya sustainable, kian marak diterapkan oleh banyak perancang busana belakangan ini. Karenanya, sekarang para pelaku industri mode mulai mengubah haluan ke pakaian ramah lingkungan.

Mereka mulai mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari pengerjaan bahan, proses menjahit hingga kemasan semuanya ada di dalam pengawasan.

Dari aspek pengguna, dengan pakaian ramah lingkungan Anda tak sekadar bergaya, namun juga mengubah gaya hidup.

Baca juga:
Tak Ingin Cemari Lingkungan, Kampung Ini Kembangkan Batik Pewarna Alami
Ini Dia Kelebihan dan Kekurangan Pewarna Alami

Hal inilah yang menginspirasi William Wimpy untuk mendirikan Canting Hijau, sebuah jenama yang mengusung konsep batik yang memiliki nilai-nilai seni dan budaya yang membumi.

Awalnya hal ini terjadi saat William merasa prihatin dengan menjamurnya batik print yang dibanderol dengan harga murah. Ia memandang hal itu menyebabkan menurunnya minat pembeli produk batik tulis dan batik cap yang memiliki nilai sejarah serta budaya bangsa Indonesia.

Demi melestarikan kebudayaan Indonesia lah, Canting Hijau kemudian memproduksi batik dengan pakem motif yang telah dikenal. Selain itu, ada juga motif-motif baru yang diciptakan sebagai ciri khas jenama yang didirikan 2014 lalu ini, misalnya Bhatara Kara, Kembang Jaipong, dan Wayang Cepot Bandung yang mengangkat kearifan lokal.

Ragam motif batik ini kemudian dituang dalam model pakaian atasan, gaun asimetris, rok, celana hingga kemeja, baik untuk perempuan juga lelaki. Bahkan kabarnya sebentar lagi Canting Hijau juga akan memproduksi pakaian bersahaja bagi perempuan berjilbab.

Kesemua batik dibuat dengan dengan kain katun organik dan pewarna alami yang ramah lingkungan. Aksesori Canting Hijau pun kerap dibuat dari kain perca sisa produksi pakaiannya.

Ya, Canting Hijau tak hanya ingin meraup keuntungan materi dari produknya, tetapi juga memiliki misi untuk mendapatkan profit yang searah dengan dampak positif terhadap masyarakat dan lingkungan, mengutamakan pemberdayaan para pembatik di daerah, menyerap tenaga kerja dengan membayar upah yang cukup, dan tetap menjaga lingkungan dari kerusakan.

Tak heran jika Canting Hijau optimistis usahanya akan mampu membiayai berdirinya desa batik ramah lingkungan yang mempekerjakan lebih dari 200 pembatik pada 2020 mendatang.

William berharap melalui Canting Hijau, eco fashion semakin dikenal dan disadari oleh masyarakat Indonesia. Karena satu produk Canting Hijau yang dibeli berarti ikut mewujudkan mimpi Canting Hijau menjadi pejuang budaya dan pejuang lingkungan. Serta mewujudkan mimpi para pembatik di daerah dan mimpi semua orang di dunia untuk menjaga lingkungan dari kerusakan.

 

Sumber: beritagar.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *