Mengulik Makna di Balik Misteri Pakaian Pengantin Tradisional Paes Ageng

Apakah kamu ingin segera menikah dalam waktu dekat? Pasti salah satu hal yang kamu pikirkan untuk naik ke pelaminan adalah ritual adat yang akan kamu gunakan nanti.

Nah, jika kamu berasal dari Yogyakarta atau memiliki keturunan dari sana atau malah memiliki pasangan dari Yogyakarta atau Solo, pasti wajib menggunakan pakaian adat dari sana.

Tapi kamu tidak perlu pusing apa pentingnya menggunakan acara adat tradisional dalam pernikahan. Alasannya, selain untuk mempertahankan budaya bangsa, pernikahan dengan adat tradisional memiliki banyak makna.

Salah satu busana tradisional pernikahan yang menjadi favorit para pengantin adalah Paes Ageng. Kabarnya, Paes Ageng memiliki makna dari setiap riasan serta perhiasannya.

Prada

Riasan ini dilukis pada bagian kening pengantin wanita dan biasanya berwarna hitam dengan bentuk garis lengkung. Namun, ukuran pada lengkung tersebut berbeda-beda. Pada bagian tengah ada garis lengkung paling besar dan kemudian diapit garis-garis lengkung berukuran kecil.

Garis lengkung besar adalah simbol kebesaran Tuhan sedangkan garis lengkung kecil mengartikan simbol bahwa sang istri kelak harus menjadi penyeimbang dalam rumah tangga.

Pada bagian lengkung besar terdapat tiga titik sebagai simbol Trimurti, yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.

Citak

Jika dilihat sekilas, riasan ini terlihat seperti riasan khas India. Riasan ini berbentuk seperti jajar genjang yang berada di pangkal hindung tepat di antara dua alis. Riasan ini terbuat dari daun sirih yang dianggap sebagai refleksi mata Dewa Siwa.

Artinya, riasan ini menyimbolkan pusat panca indra sehingga menjadi pusat keseluruhan ide.

Alis Menjangan

Jika kita melihat dari namanya pasti kamu sudah tahu artinya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menjangan adalah kijang.

Alis menjangan berbentuk seperti tanduk rusa karena wanita harus memiliki karakter cerdik, cerdas, dan anggun.

CundukMentul

Kamu tahu penjepit rambut untuk menyanggah sanggul pada pengantin di busana Paes Ageng? Ternyata itu bukan sekedar penjepit, melainkan sebuah perhiasan yang memiliki makna tersendiri.

Perhiasan itu bernama Cunduk Mentul yang biasa berjumlah satu, tiga, lima, atau sembilan. Cunduk Mentul yang jumlahnya satu merupakan simbol dar iTuhan Yang Maha Esa.

Berjumlah tiga diartikan sebagai simbol trimurti dalam agama Hindu. Jika berjumlah 5 merupakan simbol dari rukun Islam. Dan berjumlah 9 diartikan sebagai simbol walisongo.

Gunungan

Gunungan hampir sama dengan Cundu Mentul. Hiasan ini dipasang di bagian kepala untuk menjepit sanggul. Bernama Gunungan karena bentuknya yang mirip gunung.

Gunung sendiri dalam mitologi Hindu memiliki arti tempat bersemayam nenek moyang dan tempat tinggal para dewa serta pertapa. Simbol ini juga memiliki makna bahwa perempuan harus juga dihormati oleh suaminya.

Centhung

Centhung adalah perhiasan yang terletak di sisi kanan dan kiri di atas dahi. Perhiasan ini biasanya berupa sisir kecil dengan hiasan berlian.

Centhung memiliki makna bahwa pengantin wanita telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tangga.

Sumping

Ini adalah perhiasan yang menjulur ke samping pada bagian kedua telinga pengantin wanita. Perhiasan itu terbuat dari logam biasa yang berwarna emas.

Perhiasan itu memiliki makna bahwa untuk menjadi istri harus siap merasakan berbagai kepahitan dalam rumah tangga. Pada zaman kerajaan sumping terbuat dari daun pepaya yang terkenal memiliki rasa pahit.

Kalung Sungsun

Kalung ini bersusun tiga melambangkan tingkatan kehidupan manusia dari lahir, menikah, dan meninggal. Artinya, perempuan harus siap untuk menghadapi fase-fase tersebut. Ada pula yang menghubungkan dengan konsepsi Jawa tentang alam baka, alam antara, dan alam fana.

Kelat Bahu

Ini adalah perhiasan yang dipakai pada bagian lengan atas. Perhiasan ini berbentuk hewan naga yang bagian ekornya membelit. Naga dipercaya sebagai hewan yang memiliki kekuatan besar, di mana seorang wanita atau istri harus tetap kuat ketika ditimpa masalah setelah menikah.

Gelang

Gelang ini melambangkan kesetiaan tanpa batas. Gelang yang berbentuk bulat tanpa putus ini menandakan simbol cinta tanpa putus antara istri dan suami.

Sebagai informasi tambahan, Paes Ageng berasal dari dua tempat, Solo dan Yogyakarta. Alasannya, pakaian pernikahan ini berawal dari Perjanjian Giyanti.

Pada saat itu, seluruh gaya busana dari Keraton Surakarta Hadiningrat dibawa ke Keraton Yogyakarta Hadiningrat sebagai hadiah dari Susuhan Pakubuwono II kepada puteranya, Pangeran Mangkubumi.

Pada saat itu Pangeran Mangkubumi baru saja memenangkan perang dengan Belanda dan merebut kembali tanah yang saat ini bernama Yogyakarta. Akhirnya, Pangeran Mangkubumi dinobatkan menjadi Raja Yogyakarta pertama dengan gelar Sri Sultan HB I.

Hadiah ini merupakan wujud penghargaan kepada Pangeran Mangkubumi yang telah menang perang dengan Belanda dan berhasi lmemperoleh tanah kembali (saat ini menjadi Yogyakarta).

Setelah itu peninggalan budaya Jawa tersebut menjadi pakaian pernikahan yang hanya dikenakan oleh kerabat raja. Baru pada era Sri Sultan Hamengkubuwono IX masyarakat umum diperbolehkan mengenakan busana ini dalam upacara pernikahan.

Penulis: AtungNugroho

One Comment Add yours

  1. BarbxpEbmvni says:

    I see your page needs some unique & fresh articles.
    Writing manually is time consuming, but there is solution for this hard task.
    Just search for – Miftolo’s tools rewriter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *