Merusak Motif Parang ala Dudung Alie Syahbana

Motif Batik Parang Rusak tentunya sudah sering kita dengar sebagai salah satu motif batik klasik. Tapi jika ada istilah motif merusak parang kita harus melihat ke sosok seniman batik Pekalongan bernama Dudung Alie Syahbana.

Dalam suatu kesempatan, Dudung menyebut kreasinya ini sebagai Parang Indonesia Raya. Motif parang yang ia tampilkan adalah modifikasi modern dari bentuk parang tradisional sesuai ilham seni yang ia dapatkan.

Dudung sangat terlepas dari pakem tradisional dimana parang selalu digambarkan kaku, rapi, dan berulang-ulang. Dia sebutkan bahwa ia melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi motif parang tersebut.

Motif parang tradisional dibongkar kemudian disusun ulang sebagai bentuk desain motif batik yang baru. Bentuk parang tetap digambarkan bersusun dan terdiri dari berbagai unsur motif parang seperti mustika, mlinjon, badan, tuding, dan sayap.

Namun semua itu digambarkan secara dinamis dan luwes, meliuk-liuk, melingkar, membentuk bulan sabit, dan lain sebagainya.

Dalam menciptakan motif ini, Dudung telah melalui banyak perenungan. Salah satu perenungan muncul dari pengalaman hidup dimana dia begitu miris melihat penggunaan motif parang tradisional yang sembarangan di masa kini.

Motif parang yang sakral itu banyak dipakai masyarakat umum di tempat yang tidak layak, seperti sebagai taplak alas bunga.

Padahal parang  adalah motif sakral yang suci. Motif ini mempunyai filosofi dan pemaknaan yang mendalam dan tidak semua orang boleh memakainya. Karena itulah Dudung membuat motif parang modifikasi seperti ini.

Walaupun tetap mempunyai filosofi mendalam, ia menggeser pemaknaan sakral motif ini sehingga bisa bebas dipakai oleh masyarakat.

Keberaniannya dalam merombak motif parang ini membuat Dudung Alie Syahbana mendapat beberapa penghargaan nasional dan Internasional. Antara lain Inacraft Best of The Best (2014) dan Seal of Excellence dari Unesco (2007). Motif Parang ini tidak hanya dibuatnya sebagai batik namun juga diukir diatas kayu ataupun dipahat di kulit seperti gunungan wayang.

Penulis: Pasattimur Fajardewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *