Ini Mitos yang Terkandung dalam Penciptaan Batik Bermotif Kuno Bagian-2

Selain Batik motif Sido Luhur dan Batik Parang yang termasuk batik bermotif kuno memiliki mitos dalam penciptaannyam masih ada dua batik lagi mempunyai mitos saat diciptakan. Hampir sebagian besar mitos ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan keraton di Jawa.

Batik Motif Truntum

Batik motif Truntum diciptakan dan dibuat oleh seorang perempuan yang menjadi selir dari Paku Buwono III, Kanjeng Ratu Beruk di Keraton Surakarta.

Kanjeng Ratu Beruk bukan berasal dari kalangan bangsawan dan hanya anak seorang abdi dalem bernama Mbok Wirareja. Namun ia memiliki mimpi mejadi permasuri raja.

Tentu hal itu menjadi suatu yang mustahil karena masalah status sosialnya. Kanjeng Ratu Beruk pun hanya menghabiskan setiap malam dengan kesendirian tanpa bisa mendampingi Paku Buwono III.

Suatu malam, Kanjeng Ratu Beruk mendapatkan sebuah ilham untuk menciptakan batik setelah melihat indahnya bunga tanjung yang jatuh berguguran di dalam keraton. Selanjutnya, Kanjeng Ratu Beruk menuangkan apa yang dilihatnya itu ke sehelai kertas dan membubuhkan gambar itu ke selembar kain berwarna hitam.

Batik Truntum merefleksikan sebuah harapan di saat langit malam tanpa bulan, namun masih ada bintang. Batik ini juga bermakna semua kesulitan pasti ada kemudahan di dalamnya walaupun hanya mempunyai kesempatan yang kecil.

Batik Motif Udan Riris

Berbeda dari tiga batik sebelumnya, batik motif ini dibuat dari kegundahan hati Paku Buwono III melihat perpecahan di dalam keraton Kasunanan Surakarta pasca perjanjian Giyanti pada tahun 1755.

Perjanjian itu membagi kekuasaan Kasunanan Surakarta menjadi dua yakni Solo dan Yogyakarta.

Pangeran Mangkubumi yang kemudian bertahta sebagai raja di kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Yogyakarta membawa sebagian pusaka dan batik keraton Kasunanan ke Yogyakarta.

Ini menjadi awal mula perang dingin antara orang Solo dan Yogya. Saling ejek soal batik pun terjadi.

Hal ini membuat Paku Bowono III gundah dan memutuskan untuk menyepi di sungai yang tak jauh dari makam leluhurnya Ki Ageng Henis.

Semadi dilakukan dengan cara berendam dengan sebuah pelita. Tak lama hujan gerimis mengguyur tempatnya bertapa. Bayangan rintik hujan yang terkena cahaya lampu itulah menjadi inspirasi Paku Buwono menciptakan batik motif Udan Riris.

Penulis : Atung Nugroho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *