Perpaduan Perwarnaan dari Budaya Berbeda di Batik Tiga Negeri

Pernahkan kamu mendengar Batik motif Tiga Negeri atau biasa disebut Batik Negeri? Ya, dari namanya saja batik ini sudah sangat tercermin adanya pencampuran budaya dalam batik tersebut. Batik Tiga Negeri ini merupakan perpaduan unsur budaya Tionghoa dan Jawa.

Batik Tiga Negeri dibuat oleh sebuah keluarga pembatik asal Solo bernama Keluarga Tjoa sejak tahun 1990-an. Keunikan yang tersimpan di batik ini terdapat pada penyelesaiannya yang dilakukan di tiga tempat di Pulau Jawa sebagai sentra pembuat batik yakni Solo, Lasem dan Pekalongan.

Biasanya Batik Tiga Negeri ini dalam bahasa Tionghoa disebut Angkok. Ang berarti merah dan Kok berarti negeri.

Pada saat ini proses pembuatan Batik Tiga Negeri sudah tidak bisa diulangi lagi. Proses pertama yang dilakukan yakni penggambaran sketsa dan memberikan malam hingga selesai di kedua sisi kain batik di Kota Solo. Karena pembuatanya di Solo, maka batik ini terdapat unsur batik pedalaman.

Selanjutnya, kain yang sudah diberikan malam tersebut dikirim sejauh 160 km ke daerah Lasem. Wilayah Lasem sendiri terkenal sebagai sentra penghasil batik pesisir yang dipengaruhi budaya Tionghoa. Di sini, kain batik itu diberikan warna merah sebagai warna yang merupakan ciri khas budaya Tionghoa.

Setelah selesai diberikan pewarnaan, batik kemudian dikirimkan kembali ke Solo untuk diperiksa apakah warna sudah sesuai atau belum. Jika dirasa sudah sesuai, batik kemudian di kirim ke Kota Pekalongan. Kemudian batik mendapatkan tambahan warna hijau dan biru yang hanya dihasilkan di Pekalongan.

Usai diberikan tambahan warna hijau dan biru, batik kembali dikembalikan ke Solo untuk diberikan warna kuning yang menutupi seluruh bagiannya. Selain itu, di Solo jugalah Batik Tiga Negeri ini pengerjaannya diselesaikan.

“Kejayaan dari Batik Tiga Negeri ini tidak akan bisa kembali terulang. Coba siapa yang mau mengantar sebuah kain melewati perjalanan ratusan kilo? Tentunya jika diproduksi saat ini, harga kain batik ini akan berharga sangat mahal dan tidak semua orang bisa membelinya. Karena wastra baru akan hidup jika ada pembelinya,” kata Didi Budiarjo, seperti dikutip Liputan6.com.

Sulitnya proses pembuatan Batik Tiga Negeri ini membuatnya dianggap sakral dalam berbagai budaya. Bahkan ditataran Sunda, seseorang bisa gagal menikah karena hanya tidak memiliki Batik Tiga Negeri tersebut. Tak hanya itu, ada juga yang percaya Batik Tiga Negeri ini dipercaya sebagai obat dengan cara membakarnya kemudian dimasukan dalam air untuk diminum.

Penulis : Atung Nugroho

Sumber Foto : http://www.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *