Meriahnya Cap Go Meh di Pekalongan

Indonesia sangat terkenal kaya akan ragam budayanya. Etnis keturunan Tionghoa pun turut menyumbang berbagai perayaan budaya yang memperkaya keberagaman tersebut.

Salah satunya dalam perayaan Imlek. Imlek adalah Perayaan Tahun Baru menurut kalender Tionghoa. Sama seperti Lebaran di agama Islam, masyarakat Tionghoa biasanya akan mudik ke tanah kelahiran keluarga besarnya.

Perayaan Imlek berlangsung selama 15 hari, secara umum etnis Tionghoa yang beragama Budha dan Konghucu akan melakukan sembahyang di Klenteng. Di hari terakhir ada perayaan penutup yang disebut Cap Go Meh. Perayaan ini digelar dengan meriah di berbagai Kota di Indonesia.

Prosesi acara Cap Go Meh. Foto: Dewa
Prosesi acara Cap Go Meh. Foto: Dewa

Di Kota Pekalongan, perayaan Cap Go Meh digelar dengan mengadakan Pawai atau biasa disebut Gi Ang. Di tahun 2017 ini, pawai akan diadakan pada tanggal 10 Februari 2017. Pawai biasanya diadakan pada jam 1 siang hingga sore. Pawai berpusat di Klenteng Po An Thian di Jalan Belimbing, dan kemudian berjalan dengan rute mengitari Kota sepanjang 4 km.

Klenteng Po An Thian sendiri adalah klenteng tertua di Pekalongan yang sudah berdiri sejak. Didepan Klenteng inilah pawai dibuka. Peserta pawai biasanya terdiri dari beberapa Dewa kepercayaan Tionghoa yang ditempatkan dalam rumah yang disebut Topekong.

Topekong ini sangat besar dan mempunyai berat puluhan kilogram. Topekong diangkut oleh 5 sampai 10 orang, dengan gerakan berputar dan berayun-ayun. Ada sekitar 10-an topekong yang diarak, yang berasal tidak hanya dari Klenteng Pekalongan, namun juga dari daerah lain seperti Tegal dan Slawi.

Prosesi acara Cap Go Meh. Foto: Dewa
Prosesi acara Cap Go Meh. Foto: Dewa

Selain topekong, pawai juga diisi oleh rombongan barongsai, liong, grup musik, dan orang berkostum ikon khas Tionghoa seperti rombongan Sun Go Kong yang tentunya banyak dikenal oleh masyarakat.

Barongsai dan Liong melakukan atraksi yang sangat memukau. Masyarakat Tionghoa sekitar kerap menggantung angpao (amplop merah berisi uang) di atap teras rumah. Para barongsai akan melakukan gerakan akrobatik dalam mengambil angpao tersebut. Atraksi ini sangat mengundang kekaguman dan tepuk tangan masyarakat.

Pada akhirnya, rombongan pawai akan kembali ke Klenteng, disambut kembali oleh pendeta. Perayaan Cap Go Meh ditutup dengan acara makan bersama keesokan harinya, sambil mengucap syukur dan harapan akan berkah di tahun ini. Acara makan bersama ini dibuka untuk umum, jadi masyarakat non Tionghoa juga mengikutinya.

Perayaan Cap Go Meh  sungguh semarak ditonton ratusan orang dari berbagai kalangan. Masyarakat non Tionghoa di Pekalongan tidak sekedar menonton, namun juga ikut membantu berjalannya acara. Rombongan barongsai dan liong banyak yang berasal dari masyarakat non Tionghoa. Inilah bukti keberagaman dan solidaritas yang memperindah keharmonisan hidup di Indonesia.

 

Penulis : Pasattimur Fajar Dewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *