Tenun Ikat Sintang yang Terlupakan

Kabupaten Sintang sangat terkenal dengan kerajinan tenun ikatnya. Kain ini mempunyai kekhasan dalam motif, kehalusan, dan cara pembuatan yang tetap mempertahankan teknik tradisional. Dalam berbagai lomba kain tenun, kain Sintang kerap menjadi juara. Bahkan dalam sebuah lomba kain tenun se-Provinsi Kalimantan Barat tahun 2016 ini, kain tenun Sintang menyabet juara 1, 2, dan 3 sekaligus.

Kerajinan ini banyak dibuat oleh kaum wanita dari suku Dayak. Mereka membuat kain dari awal berupa kapas, kemudian dipintal menjadi benang, benang diwarnai, dan kemudian ditenun menjadi kain.

Tak hanya menggunakan teknik tradisional, peralatan tradisional pun tetap dipertahankan. Alat pemintal dan penenun yang mereka pakai sangat sederhana, tidak seperti ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) yang banyak dipakai di berbagai daerah di Indonesia. Pewarna yang mereka pakai adalah perpaduan pewarna kimia dan alami.

Bahan pewarna alami masih banyak dipakai karena alam hutan masih menyediakannya. Bahkan warna merah akar mengkudu sangat gampang didapatkan.

Banyak motif tenun ikat yang dibuat masyarakat Dayak. Motif paling banyak dibuat adalah motif geometris. Beberapa motif adalah motif sakral dan disucikan, dimana tidak sembarang orang boleh membuatnya. Hanya orang tua yang sudah banyak berpengalaman yang boleh membuat motif tersebut.

Konon jika terjadi kesalahan dalam membuat motif terebut dapat mengakibatkan kematian. Motif yang disakralkan biasanya yang menggambarkan mahluk hidup seperti manusia, naga, dan buaya. Dipercaya motif tersebut juga harus diberi “makan”, yakni melakukan ritual khusus dalam proses pembuatannya.

Sumber gambar: Fajar Dewa
Sumber gambar: Fajar Dewa

Kegiatan menenun yang dilakukan oleh kaum wanita Dayak ini sangat berguna dalam menunjang perekonomian keluarga. Padahal sebelumnya kegiatan menenun ini sempat hampir punah.

Adalah seorang Pastur Belanda bernama Jacques Maessen yang mempunyai andil besar dalam pelestarian tenun ikat Dayak ini. Selama 30 tahun beliau mengajak masyarakat Dayak untuk kembali menenun. Kemudian ia juga membentuk sebuah koperasi Jasa Menenun Mandiri yang menjadi usaha bersama dalam penyediaan bahan hingga penjualan hasil tenunan.

Perajin tenun ikat yang merupakan masyarakat asli Sintang. Sumber gambar: Fajar Dewa
Perajin tenun ikat yang merupakan masyarakat asli Sintang. Sumber gambar: Fajar Dewa

Tidak hanya itu, Koperasi ini juga mempunyai kegiatan pelestarian menenun pada generasi muda. Menurut Maessen dulu sekitar tahun 80-an hanya empat orang Dayak yang aktif menenun, namun kini sudah mencapai sekitar 400 wanita Dayak yang menenun.

Koperasi ini menempati sebuah bangunan kayu dengan gaya arsitektur khas nan unik. Bangunan ini juga difungsikan sebagai galeri tenun dan kerajinan khas yang juga menjadi salah satu tujuan wisata wajib di Sintang.

Di galeri ini Anda dapat menemui banyak ragam dari produk kerajinan tenun ikat dan kerajinan khas Sintang lainnya seperti manik-manik, anyaman, dan mandau. Tenun ikat yang dijual juga beragam ukuran dan jenis. Harganya juga tak terlampau mahal, dari sekitar Rp. 25.000 untuk slayer hingga Rp. 3 juta untuk kain panjang.

 

Penuli: Pasattimur Fajar Dewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *