Menelisik Kemeriahan Prosesi Upacara Tabuik Di Pariaman

Bila kita pergi ke kota Pariaman, Sumatera Barat setiap tanggal 10 Muharam kalender hijriah, maka kita akan menjumpai sebuah festival adat yang menarik bernama tabuik. Upacara tabuik memang sudah menjadi sebuah tradisi khas dari masyarakat Pariaman yang telah berlangsung sejak tahun 1828 Masehi. Pagelaran upacara tabuik pada setiap agendanya memang selalu memikat para wisatawan untuk datang melihatnya. Seperti apakah upacara yang kini telah menjadi bagian dari kalender pariwisata Kabupaten Padang Pariaman setiap tahunnya ini?

Upacara Memperingati Asyura

Sumber foto: dofra-newsholic.blogspot.co.id/
Sumber foto: dofra-newsholic.blogspot.co.id/

Tabuik berasal dari bahasa arab yaitu ‘tabut’ yang berarti peti kayu. Dalam upacara ini memang ada prosesi pengusungan jenazah menggunakan peti kayu yang dibawa oleh peserta upacara. Peti kayu sendiri menggambarkan kotak kayu yang dalam kisahnya berisi potongan jenazah Hussein, cucu Nabi Muhammad yang dibawa ke langit oleh buraq (makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia).

Upacara tabuik memang diadakan untuk memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram (Asyura) yang meninggal dalam perang di padang Karbala. Nah, dalam upcara tabuik ini masyarakat Pariaman membuat tiruan buraq yang mengusung peti kayu atau tabut di punggungnya. Selain itu dalam upacara festival ini ada juga peragaan pertempuran karbala dan juga permainan drum tassa dan dhol serta tarian khas daerah.

Dua Jenis Tabuik di Pariaman

Sumber foto: nabilaannisaa.blogspot.co.id/
Sumber foto: nabilaannisaa.blogspot.co.id/

Menilik dari asal usulnya, tabuik dipengaruhi dari budaya arab atau timur tengah, dimana pembawanya adalah orang India penganut Syiah. Upacara Tabuik awalnya hanya ada satu macam yaitu Tabuik Pasa (pasar) yang merupakan daerah asal dari tradisi Tabuik. Wilayah Pasa ini berada di daerah sisi selatan dari sungai yang membelah kota tersebut hingga ke tepian Pantai Gandoriah.

Tahun 1915 ada permintaan dari sebagian masyarakat untuk mengadakan tabuik lain yang kemudian disepakati dibuat di daerah seberang Sungai Pariaman. Dari sini maka muncullah jenis tabuik yang kedua yaitu tabuik Subarang yang berasal dari kampung Jawa di wilayah di sisi utara dari sungai atau daerah seberang. Tabuik Subarang yang diperkirakan muncul di tahun 1916 dan 1930 ini dilakukan dengan tetap mengikuti tata cara yang berlaku di daerah Pasa.

Rangkaian Prosesi Upcara Tabuik

Sumber foto: nabilaannisaa.blogspot.co.id
Sumber foto: nabilaannisaa.blogspot.co.id

Upacara tabuik meliputi tujuh rangkaian atau tahapan dalam prosesinya, yaitu mengambil tanah yang dilaksanakan pada tanggal 1 Muharam, menebang batang pisang dilakukan di tanggal 5 Muharam. Ada juga prosesi mataam, dijalankan pada hari ke-7 bulan Muharram, mengarak jari-jari, dilaksanakan dimalam hari 8 Muharram, mengarak sorban, dilakukan pada tanggal 9 Muharam, tabuik naik pangkek, dijalankan pada hari puncak antara tanggal 10-15 Muharram

Setelah tabuik naik pangkek, upacara dilanjutkan dengan Hoyak tabuik yang dilakukan pada hari puncak 10-15 Muharram, membuang tabuik ke laut dilakukan pada maghrib di hari puncak 10-15 Muharram, hari puncak prosesi Tabuik ini memang bisa berbeda-beda atau berubah-ubah antara tanggal 10-15 Muharram. Hal ini dikarenakan masyarakat biasanya akan menyesuaikan dan menyamakan dengan hari akhir pekan pada kalender masehi agar lebih banyak menarik wisatawan untuk melihat festival puncak tabuik tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *