Motif Jelamprang, dari India Hingga Melegenda di Pekalongan

Motif Jelamprang adalah motif geometris yang berkembang di Pekalongan, bahkan dijadikan salah satu motif tradisional asal Pekalongan. Motif ini bisa berbentuk bulatan ataupun bujursangkar berulang yang masing-masing bentuk mempunyai pusat dan garis kearah delapan penjuru.

Motif Jelamprang begitu banyak menghiasi pakaian maupun berbagai tampilan dekoratif di berbagai sudut Kota Pekalongan. Motif ini memang telah menjadi identitas masyarakat Pekalongan.

Sebenarnya motif Jelamprang bukan murni asli Pekalongan, namun terinspirasi dari kain Patola, kain tenun ikat ganda, dari daerah Gujarat, India. Motif Patola ini banyak tersebar di berbagai area di Indonesia, terutama pada kain tenun nusantara.

Di Jawa, motif Patola dikenal sebagai cinde. Kedatangan motif Patola ini tak lepas dari sejarah Indonesia baik masa Hindu Buddha maupun masa kolonial. Sebuah referensi mengatakan bahwa motif Patola sudah muncul sebagai motif batik di Pekalongan Kuno sebagai benda upacara pada saat kepercayaan itu berkembang setelah Pekalongan ditinggalkan Wangsa Sanjaya ke Jawa Timur pada abad X Masehi. Selain itu, pada masa kolonial Belanda, kain India menjadi salah satu produk ekspor unggulan yang tersebar di Asia termasuk Nusantara sejak abad 16 hingga abad 18.

Pada akhir abad 18, terjadi pengurangan impor kain India yang disebabkan clash perekonomian di Eropa. Berkurangnya kain India menyebabkan terjadi pergeseran dan peralihan dari kain tenun India ke kain lokal yang memakai teknik bukan tenun, melainkan batik.

Peralihan ini menjembatani minat masyarakat saat itu yang tetap menyukai motif Patola. Batik bermotif patola tersebar di daerah pesisir hingga pedalaman (Yogyakarta dan Surakarta). Di area pesisir, khususnya Pekalongan, motif ini dinamai Jelamprang. Sedangkan di pedalaman, dinamai motif nitik. Perbedaan utama dari keduanya jika jelamprang mempunyai banyak warna, motif nitik berwarna gelap, sogan seperti pakem warna batik pedalaman lainnya.

Motif Patola banyak disenangi berbagai kalangan masyarakat. Terlebih pada masyarakat Arab di Pekalongan yang pada saat itu lebih memilih motif geometris daripada motif naturalis yang memuat gambar mahluk hidup yang juga popular di kalangan masyarakat Belanda dan Tionghoa di Pekalongan. Hal tersebut disebabkan karena mereka memegang teguh ajaran Islam yang melarang penggunaan gambar mahkluk hidup dalam pakaian.

Tidak ada catatan pasti kapan mulainya penamaan Jelamprang. Namun salah satu opini mengatakan bahwa penamaan Jelamprang tersebut muncul sejak motif Patola diaplikasikan dalam teknik batik. Penamaan Jalamprang diambil dari daerah pembuatan batik motif tersebut.

Di Pekalongan, pembatik motif Patola ini berada di daerah Kauman, tepatnya di Jalan Jelamprang. Arti dari kata Jelamprang sendiri mempunyai beraneka opini. Ada yang mengatakan bahwa Jelamprang adalah Jalan Perang. Ada pula yang mengartikan bahwa Jelamprang berasal dari kata Jalamprong yang artinya “Jagoan” atau “Orang Hebat”. Ada pula yang mengatakan jelamprang adalah nama sejenis pohon besar yang dulu pernah berdiri di daerah tersebut.

Di daerah asalnya, motif Patola mengandung makna spiritual yang dapat memberikan perlindungan dan kesejahteraan. Di beberapa daerah di Indonesia, motif Patola ini juga dikeramatkan karena dianggap mempunyai nilai magis dan berhubungan erat dengan alam gaib. Begitu pula di Pekalongan, motif Jelamprang juga pada awalnya dianggap mempunyai nilai spiritual dan magis.

Bentuk simetris Jelamprang adalah symbol keselarasan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Batik jelamprang kerap dikaitkan dengan legenda Den Ayu Lanjar, Dewi Penguasa Pantai Utara. Konon Dewi Lanjar sangat menyukai motif ini. Hingga kini, dalam upacara sadranan atau sedekah laut, kain jelamprang kerap dijadikan salah satu sesembahan yang akan dilarung ke Laut Jawa.

Saat ini, motif Jelamprang tidak sesakral ataupun dianggap mempunyai kekuatan mistis seperti dahulu kala. Namun kain jelamprang tetap dihormati karena mempunyai arti penting dalam kehidupan budaya maupun spiritual di pesisiran. Pembatik Pekalongan masih banyak yang membuat motif jelamprang dengan berbagai variasi. Kain jelamprang menjadi salah satu motif kuno yang terus bertahan dan tetap lestari hingga saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *