Motif Batik Tradisional Unik yag Tetap Dipertahankan Hingga Kini

Desain motif pada kain panjang batik  mempunyai komposisi desain yang unik dan berbeda. Perbedaan tersebut sangat dipengaruhi budaya yang berkembang dan juga mempengaruhi cara pemakaian kain batik tersebut. Berikut ini akan dijabarkan perbedaan Batik dari pengaruh pedalaman dan pesisiran, serta beberapa  gaya kain batik yang mempunyai komposisi khas seperti Pagi Sore dan Terang Bulan.

Komposisi Batik Pedalaman vs Batik Pesisiran

Secara umum, ada perbedaan anatomi kain pada Batik Pesisiran dan Batik Pedalaman. Pada kain pesisiran kebanyakan ada dua bagian utama yaitu kepala dan badan. Selain itu ada beberapa bagian kain lain yang menjadi ciri khas komposisi desain batik seperti papan, pinggiran, dan tepian (bogh).

Hal ini karena dalam sejarahnya, selera masyarakat pesisir pada awalnya sangat menyukai kain-kain India dan memasukkan unsur-unsurnya kedalam kain batik. Sedangkan pada Batik Pedalaman (Batik Yogya dan Solo) biasanya hanya mempunyai badan, tanpa kepala, pinggiran ataupun tepian. Terkadang ada beberapa yang menggunakan tepian sebagai penunjuk batas kain. Selain karena dalam sejarahnya sudah seperti itu, pihak Kraton Yogya maupun Solo juga ingin membentuk identitas batik yang tidak dipengaruhi pola-pola kain India.

Komposisi Batik Pagi Sore

Batik gaya pagi sore dan terang bulan mempunyai komposisi desain yang khas. Batik Pagi Sore menampilkan dua desain berbeda dalam satu kain dengan komposisi seimbang. Pembatasnya bisa berupa garis miring ataupun garis lurus di tengah kain.

Dua desain ini dimaksudkan agar kain dapat dipakai dua kali, dan pemakainya seperti mempunyai dua kain yang berbeda. Komposisi seperti ini muncul pada periode kedatangan Jepang. Pada saat itu terjadi penghematan kain, sehingga pembatik membuat 2 in 1 motif seperti ini. Pada beberapa kain pagi sore ada yang tetap menampilkan kepala.

Komposisi Batik Terang Bulan

Batik terang bulan mempunyai komposisi motif yang unik. Bagian tengah kain relatif kosong, terkadang ada taburan ragam hias kecil ataupun pola yang monoton. Motif batik nya berada di pinggiran kain, terkadang meliputi keseluruhan pinggiran kain, terkadang bagian atasnya tidak terisi, ada pula yang bagian atas ataupun salah satu sisi kiri atau kanan tidak terisi. Ada kisah yang dibuat berdasarkan munculnya gaya terang bulan ini. Sebelum gaya terang bulan, semua batik terisi penuh diseluruh bagian.

Corak batik itu dianggap sebagai kebun atau taman tanaman. Kemudian ‘kebun’ di bagian tengah dipangkas dan memperlihatkan langit yang terang. Bagian tengah tersebut diasosiasikan sebagai langit terang saat terang bulan. Jadi gaya terang bulan itu seperti menyaksikan langit terang bulan dari kebun atau taman. Penggalan kisah ini adalah romantisme Jawa.

Pada masyarakat Jawa sangat menyukai waktu terang bulan, tercermin pada lagu tradisional Jawa berjudul “Padang Bulan” (bulan terang) yang menceritakan anak-anak yang keluar rumah dan bermain saat bulan terang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *