Ke Bromo Jangan Cuma Nikmati Alam, Coba Lihat Pertunjukan Budaya Ini

Selain pemandangan alam yang menakjubkan, wilayah Bromo juga memiliki sajian menarik lain bagi para wisatawan. Adalah upacara kasada. Sebuah upacara keagamaan terbesar bagi masyarakat Hindu Tengger di wilayah kawasan gunung Bromo.

Masyarakat suku Tengger yang beragama Hindu kita bisa mendapati beragam upacara adat. Dari sekian banyak upacara adat yang ada, Kasada atau sering disebut juga Yadya Kasada menjadi yang terbesar dan termegah.

Upacara Kasada sebenarnya adalah sebuah kisah yang menceritakan pengorbanan Raden Kusuma, anak Jaka Seger dan Lara Anteng yang rela berkorban untuk keselamatan masyarakat Tengger. Dalam mitosnya, Lara Anteng (Putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (putra Brahmana) yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Tengger terikat janji untuk mengorbankan putra sulungnya kepada Sang Hyang Widhi saat bersemedi meminta keturunan.

Karena Lara Anteng dan Jaka Seger ingkar setelah dikaruniai anak, maka  Dewa menjadi marah dan mengganjarnya dengan letusan Gunung Bromo. Ketika malapetaka terjadi inilah putra sulung Lara Anteng dan Jaka Seger yang bernama Raden Kusuma kemudian lenyap ditelan kawah gunung bromo sebagai persembahan.

Dari kisah legenda ini masyarakat Bromo melaksanakan ritual upacara Kasada setiap tahun pada tanggal 14 hingga 16 bulan Kasada, atau saat bulan purnama tampak di langit secara utuh. Ritual ini digelar sebagai penghormatan atas pengorbanan Raden Kusuma.

Selain untuk menghormati Raden Kusuma, upacara Yadya Kasada juga bertujuan untuk meminta keselamatan. Yadya Kasada juga dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah dan menjadi berkah bagi seluruh masyarakat.

Dalam upacara adat tersebut, masyakat suku Tengger akan berbondong-bondong datang ke Gunung Bromo dengan membawa sesaji berupa hasil bumi dan peternakan di tempat bernama ongkek. Sesampainya di kawah Gunung Bromo, mereka akan melempar sesaji yang dibawa ke kawah sebagai tanda pengorbanan dan persembahan kepada Sang Hyang Widhi.

Upacara ini menjadi sangat menarik karena memiliki hal-hal unik. Sebut saja banyaknya pengemis dan warga suku Tengger pedalaman yang berebut ongkek yang dilempar ke kawah.

Sebelum upacara puncak digelar, masyarakat Tengger juga menggelar sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Dalam rangkaian acara itu mereka juga mengukuhkan sesepuh Tengger.

Selain itu upacara ini juga menjadi ujian bagi pulun mulenen, atau dukun baru suku Tengger. Ia ditantang apakah bisa membantu kelancaran upacara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *